Sunday, December 8, 2013

stok, model biomass, dan MSY

hemz..hari ini mau ngapain ya, pulang dari Ibu Kota Indonesia (DKI Jakarta), langsung tancap sharing tinjauan pustaka stok, model biomass, dan MSY (Maximum Sustainable Yield)



II. TINJAUAN RUJUKAN

Stok ikan adalah suatu sub gugus dari suatu spesies yang umumnya dianggap sebagai suatu unit taksonomi dasar. Pengkajian stok ikan adalah suatu kegiatan mempelajari, mentelaah, menduga dan mencermati kondisi suatu stok ikan di suatu area penangkapan. Tujuan utama dari penggunaan model biomass dinamis untuk mengkaji stok ikan adalah untuk mengetahui tingkat maksimum suatu upaya tangkapan untuk suatu lokasi penangkapan. Upaya maksimum tangkapan digunakan untuk mengelola sumberdaya ikan yang lestari dalam pemanfaatannya sebagai pemenuhan kebutuhan hidup sumberdaya manusia dan lestari dalam produktifitas stok ikan (Effendie, 2002).
Model biomas perikanan hakekatnya berdasarkan pada biomas semata yang mengasumsikan bahwa suatu populasi ideal yang menghasilkan surplus biomas maksimum dapat menghasilkan tangkapan maksimum per tahun. Keadaan ini akan mempertahankan populasi pada kesetimbangan yang pada beberapa literatur dinamakan kondisi sustainable yield. Model kesetimbangan bukanlah model biomas sepanjang waktu namun model yang mengasumsikan bahwa data catch per unit effort termasuk informasi laju pertumbuhan net sebagai fungsi populasi yang selanjutnya untuk menduga tangkapan maksimum (Anonim, 2010).
Model produsi surplus menggunakan asumsi bahwa suatu stok dianggap sebagai satu unit yang besar dari biomasa dan dalam hal ini tidak dapat membuat permodelan berdasarkan umur dan panjang. Model produksi surplus berkaitan dengan suatu stok secara keseluruhan, upaya total dan hasil tangkapan total yang diperoleh dari stok. Tujuan penggunaan Model produksi surplus adalah untuk menentukan tingkat upaya optimum, yaitu suatu upaya yang dapat menghasilkan suatu hasil tangkapan maksimum yang lestari tanpa mempengaruhi produktifitas stok secara jangka panjang, yang biasa kita sebut hasil tangkapan maksimum lestari (Maximum Sustainable Yield/MSY). Model ini dapat diterapkan dengan baik apabila dapat diperkirakan dengan baik tentang hasil tangkapan total (berdasarkan spesies) dan/atau hasil tangkapan per unit upaya (CPUE) per spesies dan CPUE berdasarkan spesies dan upaya penangkapannya dalam beberapa tahun (Sparre dan Venema, 1999).
Menurut Suyasa (2003), pengelolaan sumberdaya perikanan umumnya didasarkan pada konsep “hasil maksimum yang lestari” (Maximum Sustainable Yield) atau juga disebut dengan “MSY”.  Konsep MSY berangkat dari model pertumbuhan biologis yang dikembangkan oleh seorang ahli Biologi bernama Schaefer pada tahun 1957. Inti dari konsep ini adalah menjaga keseimbangan biologi dari sumberdaya ikan, agar dapat dimanfaatkan secara maksimum dalam waktu yang panjang.   Pendekatan konsep ini berangkat dari dinamika suatu stok ikan yang dipengaruhi oleh 4 (empat) factor utama, yaitu rekrutment, pertumbuhan, mortalitas dan hasil tangkapan. 
Model produksi surplus menganalisis usaha penangkapan dengan yield dalam satu periode waktu yang cukup untuk mengembangkan dugaan usaha penangkapan yang dapat mengukur MSY. Pengaruh rekrutmen, pertumbuhan dan mortalitas alami dikombinasikan menjadi fungsi umum dari ukuran rerata populasi. Konsep tersebut memiliki asumsi bahwa  dalam kondisi alami yang stabil penambahan bersih stok ikan yang tidak terdapat aktivitas penangkapan adalah nol dan pertumbuhan seimbang dengan mortalitas alami. Introduksi penangkapan dapat menciptakan pertambahan produksi  per unit stok yang dapat dipanen (Effendie, 2002).
MSY (Maximum Sustainable Yield) merupakan hasil tangkapan terbesar yang dapat dihasilkan dari tahun ke tahun oleh suatu perikanan. Konsep MSY didasarkan atas suatu model yang sangat sederhana dari suatu populasi ikan yang dianggap sebagai unit tunggal. Konsep tersebut dikembangkan dari kurva biologi yang menggambarkan yield sebagai fungsi dari effort dengan suatu nilai maksimum yang jelas, terutama bentuk parabola dari model Schaefer yang paling sederhana (Widodo dan Suadi, 2006).


DAFTAR RUJUKAN

Anonim. 2010. Petunjuk Praktikum Manajemen Sumberdaya Perikanan II. Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Effendie, M.I. 2002. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama, Yogyakarta.
Sparre, P. dan Venema, S. 1999. Introduksi Pengkajian Stok Ikan Tropis. Kerjasama FAO dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta.
Suyasa, I Nyoman. 2003. Pengelolaan Sumberdaya Ikan Indonesia Pendekatan Normatif. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Widodo, J. dan Suadi. 2006. Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Laut. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.


Semoga bermanfaat untuk yang menggunakanya, jangan lupa komen atau share info ke teman yang lain ya. salam perikanan nusantara! 

"Jalesveva Jayamahe"
"Di Lautan Kita Jaya"


Read more

Wednesday, December 4, 2013

Paul Walker Died [ Kematian Paul Walker ]

Mengulas sedikittentang meninggalnya atau wafatnya Paul Walker...

Who Is Paul Walker? Siapa Paul Walker itu?
Paul Walker 
Lahir: 12 September 1973
Tempat Lahir: Glendale, California, USA Zodiac: Virgo Tinggi Badan: 190.5 cm Kewarganegaraan: Amerika Ayah: Paul William Walker III (Kontraktor Pipa Saluran Pembuangan) Ibu: Cheryl Crabtree (Mantan Model) Saudara: Caleb, Cody, Ashlie, Amie Kekasih: Rebecca Anak: Meadow Rain (lahir 4-Nov-99)

Read more at http://uniqpost.com/profil/paul-walker/
Tempat Lahir: Glendale, California, USA
Zodiac: Virgo
Tinggi Badan: 190.5 cm
Kewarganegaraan: Amerika
Ayah: Paul William Walker III (Kontraktor Pipa Saluran Pembuangan)
Ibu: Cheryl Crabtree (Mantan Model)
Saudara: Caleb, Cody, Ashlie, Amie
Kekasih: Rebecca
Anak: Meadow Rain (lahir 4-Nov-99)
Hawaii, namun akhirnya pindah ke California, tempat Walker tinggal. Walker juga dikenal sebagai peselancar ulung. Selain itu, ia juga mahir bela diri Brazillian Jiu Jitsu.

Read more at http://uniqpost.com/profil/paul-walker/
Ciri Fisik: Wajah tampan, rambut pirang, mata biru, berkumis dan berjenggot tipis

Hawaii, namun akhirnya pindah ke California, tempat Walker tinggal. Walker juga dikenal sebagai peselancar ulung. Selain itu, ia juga mahir bela diri Brazillian Jiu Jitsu.

Read more at http://uniqpost.com/profil/paul-walker/Ciri Fisik: Wajah tampan, rambut pirang, mata biru, berkumis dan berjenggot tipis.


Karir pertamanya di film Monster in the Closet (1986) sebagai Professor Bennett. Peran pertamanya di salah satu televisi sebagai Eric Travers dalam episode 1 Highway to Heaven (1985). Pemeran pertamanya di video musik The Mighty Mighty Bosstones dalam lagu "Wrong Thing Right Then" tahun 1997. Film-filmnya yang lain termasuk Eight Below, Into the Blue, She's All That dan Takers. Dia juga dilirik oleh produsen parfum The Coty Prestige untuk menjadi bintang iklan parfum terbaru mereka (Davidoff Cool Water For Men) serta
muncul di serial National Geographic Channel, Expedition Great White. Ia adalah seorang aktor Amerika Serikat yang sangat terkenal dalam perannya sebagai "Brian O'Conner" dalam serial film yang dibintanginya:
2001     The Fast and the Furious
2003     Turbo-Charged Prelude (film pendek 6 menit pengantar untuk 2 Fast 2 Furious)
2003     2 Fast 2 Furious
2009     Fast & Furious
2011     Fast Five
2013     Fast & Furious 6
2014     Fast & Furious 7 (pasca-produksi)

Berbagai Penghargaan di raih Paul Walker, diantaranya adalah sebagai berikut:


Tahun
Penghargaan
Kategori
Film/ Acara TV
Hasil
2000
Young Hollywood Award
Pendatang Baru Paling Menyenangkan – Pria

Menang
2001
Hollywood Breakthrough Award
Breakthrough Male Performance
Diterima pada Hollywood Film Festival

Menang
Young Hollywood Award
New Stylemaker – Pria

Menang
2002
MTV Movie Award
Best On-Screen Team
Berbagi dengan Vin Diesel
The Fast and the Furious
Menang
Breakthrough Male Performance
Nominasi
2003
Teen Choice Awards
Choice Movie Chemistry
Untuk Paul Walker dan mobilnya
2 Fast 2 Furious
Menang
2009
Teen Choice Awards
Choice Movie Actor: Action Adventure
Fast & Furious
Nominasi
2011
Teen Choice Awards
Choice Movie Actor: Action Adventure
Fast Five
Nominasi
 
Kronologi Kematian
1. Paul Walker dan rekannya Roger Rodas tengah mengikuti sebuah acara amal yang diselanggarakan oleh Rodas di Santa Clarita, California, Amerika pada tanggal 30 November 2013.

Paul Walker dan rekannya berada di kota itu untuk pameran mobil dan memberikan test drive Porsche miliknya pada orang-orang. Tewasnya dua sahabat baik ini mengejutkan banyak pihak. Meski awalnya berita tersebut hanya bohong/isu belaka, situs resmi Paul Walker langsung memberikan konfirmasi.
 "Dengan berat hati kami memberikan konfirmasi, Paul Walker memang telah meninggal dunia akibat kecelakaan," tulis admin @RealPaulwalker. The New York Times, Minggu (1/12/2013), mewartakan, Paul Walker meninggal dunia kemarin, pukul 3.30 P.M waktu setempat. Mobil Porsche Carrera GT yang dikendarainya lepas kendali. Akibatnya, Paul walker menabrak pohon besar. Kecelakaan tersebut menyebabkan mobil Paul Walker terbakar dalam sekejap. Nyawa Paul Walker tak bisa diselamatkan.
2.Dilansir Liputan6.com dari Just Jared, Paul Walker dan rekannya diketahui berada dalam sebuah mobil Porsche Carrera GT yang tengah melakukan test drive di Santa Clarita, California. Mobil yang dikendarai sang rekan lepas kendali sebelum menghajar tiang listrik dan pohon.
Kecelakaan hebat itu langsung membuat api berkobar sesaat setelah benturan keras tersebut terjadi. Walker dan rekannya yang terperangkap tidak bisa keluar lantaran tidak sadarkan diri sebelum meninggal di tempat kejadian.
"Kami semua mendengar dari lokasi kejadian. Sulit mengetahui seberapa jelasnya tetapi semua orang berlari ketika mobil naas tersebut terbakar. Beberapa di antaranya membawa pemadam kebakaran sebelum api semakin besar berkobar." ujar rekan Walker, Antonio Holmes memberikan kronologis kejadiannya.
"Mereka terjebak di dalam mobil tersebut. Kami sudah mencoba untuk menyelamatkannya dengan beberapa tabung pemadam kebakaran." jelas Holmes.
Saksi mata lain juga menyatakan Walker dan rekannya adalah pengemudi yang berpengalaman. "Ketika kami melihat jasad keduanya diangkat, Paul adalah penumpangnya. Mereka berdua adalah pengemudi yang berpengalaman. Ini adalah kejadian naas yang terjadi dalam sebuah test drive." ungkapnya.
Paul Walker meninggalkan seorang putri bernama Meadow dan seorang istri, Rebecca. Prestasinya di dunia perfilman Hollywood akan selalu dikenang.

Beberapa gambar dokumentasi kematian Paul Walker dari http://www.dailymail.co.uk/news/article-2516403/Paul-Walker-STREET-RACE-died-fireball-crash.html:
1. Foto Paul Walker dan Roger Rodas di suatu acara




















2. Dalam foto ini aktor Paul Walker berjalan ke Porsche GT hanya beberapa saat sebelum kecelakaan mengerikan.











3. Foto sisa tabrakan Porsche GT dengan tiang listrik dan sebuah pohon hingga evakuasi mobil Porsche GT

















4. Kejadian mengharukan di TKP oleh teman, kerabat, fans, dan berbagai kalangan memberikan kenangan terakhir untuk Paul Walker.
















































Selamat Jalan Paul Walker. Semoga Tenang Tempatmu di Sana. Semoga akan ada penggantimu yang pantas sebagai Brian O'Conner. R.I.P PAUL WALKER.GBU.RACE IN PARADISE!

"IF ONE DAY THE SPEEDS KILLS ME, DO NOT CRY BECAUSE I WAS SMILING"  
Attributed to Paul Walker



TinjauanRujukan diakses tanggal 4 Desember 2013:
http://www.dailymail.co.uk/news/article-2516403/Paul-Walker-STREET-RACE-died-fireball-crash.html:
http://uniqpost.com/profil/paul-walker/
http://peneroka.com/17/paul-walker-si-mata-biru/
http://id.wikipedia.org/wiki/Paul_Walker
http://showbiz.liputan6.com/read/761709/ini-kronologi-kecelakaan-mobil-paul-walker-hingga-tewas
Read more

Tuesday, December 3, 2013

Sungai, Gastropoda, Makrobentos


ngisi blog lagi ah....kali ini tentang sungai, makrobentos, dan gastropoda...silahkan menyimak, jangan lupa komentar dan kunjungi fb saya :)
TINJAUAN RUJUKAN

A.    Ekosistem Sungai
Menurut Nontji (1986) sungai merupakan perairan terbuka yang mengalir (lotik) yang mendapat masukan dari semua buangan pelbagai kegiatan manusia di daerah pemukiman, pertanian, dan industri di daerah sekitarnya. Masukan buangan ke dalam sungai akan mengakibatkan terjadinya perubahan faktor fisika, kimia, dan biologi di dalam perairan. Perubahan ini dapat menghabiskan bahan-bahan yang essensial dalam perairan sehingga dapat mengganggu lingkungan perairan.
Odum (1993) menjelaskan bahwa komponen biotik dapat memberikan gambaran mengenai kondisi fisika, kimia, dan biologi dari suatu perairan. Salah satu biota yang dapat digunakan sebagai parameter biologi dalam menentukan kondisi suatu perairan adalah hewan makrobentos. Sebagai organisme yang hidup di perairan, hewan makrobentos sangat peka terhadap perubahan kualitas air tempat hidupnya sehingga akan berpengaruh terhadap komposisi dan kelimpahannya. Hal ini tergantung pada toleransinya terhadap perubahan lingkungan sehingga organisme ini sering dipakai sebagai indikator tingkat pencemaran suatu perairan.
Kemiringan tanah, kehilangan air dan pengalirannya. Kehilangan air disebabkan karena penguapan dan perembesan air ke dalam tanah, sedangkan perlambatan pengaliran disebabkan karena banyaknya tumbuh-tumbuhan dan lain sebagainya.Pada ekosistem sungai, kecepatan arus merupakan faktor pembatas terpenting. Kecepatan arus ditentukan oleh kecuraman sungai itu sendiri yang disebabkan oleh tinggi rendah dan halus kasar dasar sungai, kedalaman serta luas badan air. Berdasarkan kecepatan arusnya, perairan sungai dapat dibedakan menjadi daerah arus cepat (rapid zone) dan daerah lubuk (pool zone). Pada masing-masing daerah tersebut kehidupan biota perairannya memiliki ciri-ciri yang khas. (Probosunu, 2009)
Menurut Sastrodinata (1980), perairan sungai dapat dibagi menjadi tiga, yaitu :
1.      Hulu Sungai
Sumber air berasal dari mata air dan memiliki aliran yang deras, sehingga produsen yang dapat hidup hanyalah produsen yang dapat melekat kuat pada bebatuan.

2.      Hilir Sungai
Daerah ini adalah persatuan dari beberapa anak sungai sehingga volumenya bertambah lebih banyak daripada hulu sungai.
3.      Muara Sungai
Daerah ini sering terbentuk delta karena endapan lumpur yang banyak. Organisme konsumen sangat beraneka ragam dan sebagian besar seperti zooplankton, remis, dan ikan.
Gerakan air sungai adalah gerak mengalir dan alirannya tetap serta tidak beraturan. Aliran sungai menurut Odum (1993) ditentukan oleh 3 faktor, yaitu :
1.      Arus
2.      Pertukaran tanah dan
3.      Kandungan oksigen
Menurut Odum (1993), berdasarkan tingkatan dasar sungai, tingkat sungai dapat dibagi menjadi tiga zona, yaitu : mudik (upper), batang sungai (middle), dan hulu (reach). Berdasarkan sifat yang menunjukkan habitat ikan atau hewan air tawar, sungai dapat dibagi menjadi enam daerah, yaitu :
1.      Hulu (reach)
2.      Jangkauan (riffles)
3.      Kedung (pool)
4.      Genangan (flow)
5.      Aliran kembali (backwater)
6.      Daerah banjir (flood water)
Keadaan sungai setiap saat berubah-ubah walaupun sungai merupakan ekosistem akuatik yang bergerak ke satu arah, menurut Gandhakoesoema (1989) keadaan sungai dipengaruhi oleh :
1.      Besarnya frekuensi hujan
2.      Luas, bentuk dan keadaan daerah pengaliran.
Ekosistem sungai dihuni oleh berbagai macam organisme. Menurut Noughton (1978) penghuni ekosistem sungai antara lain :
1.      Neuston, meliputi organisme yang aktif di permukaan.
2.      Plankton, meliputi semua organisme mikroskopik yang melayang-layang dalam air.
3.      Nekton, meliputi berbagai organisme akuatik yang dapat bergerak atau berenang bebas misalnya ikan.
4.      Bentos, meliputi organisme khususnya hewan yang hidup atau aktif di dasar sungai/perairan.
5.      Peripiton, meliputi organisme yang hidup menempel pada benda atau organisme
lain.                      
            Dalam keadaan alami, sungai-sungai dataran rendah memiliki konsentrasi ion-ion kimia yang rendah, pH rendah, alkalinitas rendah dan karenanya kapasitas penyangga rendah, BOD rendah dan konsentrasi bahan makanan rendah seperti kandungan fosfat dan nitratnya. Air tawar memiliki kapasitas penyangga yaitu dapat mempertahankan pHnya dalam kisaran sempit meskipun banyak cairan yang memasukinya (Whitten, 1999).
Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen =DO) dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk pernapasan, proses metabolisme atau pertukaran zat yang kemudian menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan pembiakan. Disamping itu, oksigen juga dibutuhkan untuk oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik dalam proses aerobik. Sumber utama oksigen dalam suatu perairan berasal sari suatu proses difusi dari udara bebas dan hasil fotosintesis organisme yang hidup dalam perairan tersebut (Salmin, 2000). Kandungan oksigen terlarut (DO) minimum adalah 2 ppm dalam keadaan nornal dan tidak tercemar oleh senyawa beracun (toksik). Kandungan oksigen terlarut minimum ini sudah cukup mendukung kehidupan organisme (Swingle, 1968).
Suhu air merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi aktifitas serta memacu atau menghambat perkembangbiakan organisme perairan.  Pada umumnya peningkatan suhu air sampai skala tertentu akan mempercepat perkembang biakan organisme perairan. Suhu air yang tinggi dapat menambah daya racun senyawa-senyawa beracun seperti NO3, NH3, dan NH3N terhadap hewan akuatik, serta dapat mempercepat kegiatan metabolisme hewan akuatik. Sumber utama senyawa ini berasal dari sampah dan limbah yang mengandung bahan organik protein (Odum, 1993).
Penurunan pH dapat dilakukan dengan melalukan air melewati gambut (peat), biasanya yang digunakan adalah peat moss (gambut yang berasal dari moss). bisa juga dilakukan dengan mengganti sebagaian air dengan air yang berkesadahan rendah, air hujan atau air yang direbus, air bebas ion, atau air suling (air destilata). Selain itu bisa juga dapat dilakukan dengan menambahkan bogwood kedalam akuairum. Bogwood adalah semacam kayu yang dapat memliki kemampuan menjerap kesadahan. Sama fungsinya seperti daun ketapang, kayu pohon asam dan sejenisnya (Anonim, 2009)

B.     Gastropoda
Molluska air tawar dapat dibedakan menjadi dua kelompok utama, yaitu Gastropoda dan Pelecypoda. Gastropoda (Y; Gaster = perut. podos = kaki) memiliki cangkang asimetri, biasanya menggulung seperti ulir memutar kekenan. Hewan ini memiliki cangkang, kakinya besar dan lebar untuk merayap di batu atau mengeduk pasir atau lumpur (Radiopoetro 1981).
Salah satu organisme yang hidup pada perairan sungai adalah gastropoda. Gastropoda merupakan salah satu organisme bentos yaitu organisme yang hidup dan aktif pada dasar sungai. Invertebrata makro merupakan jenis hewan bentos yang relatif mudah diidentifikasi dan peka terhadap lingkungan perairan, kelompok ini dikenal dengan makrobentos (Rosenberg dan Resh 1993). Bentos itu sendiri yaitu organisme yang melekat/ beristirahat pada dasar/ hidup di dasar endapan. Bentos merupakan kelompok organisme penting yang banyak terdapat di tempat-tempat yang relatif tidak terganggu (Odum1993).
Ciri-ciri dari gastropoda yaitu memiliki cangkang (kecuali siput telanjang) dengan bentuk seperti kerucut terpilin ke kiri dan ke kanan, tubuhnya simetris, ketika larva berbentuk simetris bilateral, ketika dewasa berbentuk simetris radial, pada bagian kepala terdapat mulut dengan gigi kitin, tentakel satu pasang, mata, bersifat hermaprodite, dan memiliki peredaran darah terbuka (Anonim 2002).
Kelas Gastropoda lebih umum dikenal dengan keong. Beberapa jenis keong mempunyai lempeng keras dan bundar berzat kapur atau berzat tanduk di bagian belakang kakinya. lempeng ini yang disebut operculum dapat menjadi sumbat penutup lubang cangkang yang amat ampuh untuk melindingi tubuhnya yang lunak. Untuk mencari makan, beberapa keong mempunyai parur (radula) yang digunakan untuk mengeruk alga yang menempel pada bebatuan. Adapula yang memakan alga besar dan sebagian lagi menelan lumpur-lumpur permukaan untuk menyerap partikel-partikel organik (Nontji 1993).
Kehidupan gastropoda sangat dipengaruhi oleh aliran sungai. Aliran yang lambat memiliki kandungan bahan organik dasar yang tinggi dengan jumlah fauna yang banyak. Biasanya makrobentos banyak ditemukan di pinggiran sungai karena daerah tersebut banyak mendapat masukan bahan makanan yang berupa bahan organik (Barnes and Mann 1980).

C.    Makrobentos      
Organisme air berdasarkan bentuk kehidupan atau kebiasaan hidupnya terdiri atas bentos, periphyton atau aufwucns, plankton, nekton, dan neuston (Odum 1993). Makrozoobentos mempunyai peranan yang sangat penting dalam siklus nutrien di dasar perairan. Montagna et all.(1989) menyatakan bahwa dalam ekosistem perairan, makrozoobentos berperan senagai salah satu mata rantai penghubung dalam aliran energi dan siklus alga planktonik sampai konsumen tingkat tinggi.
Keberadaan hewan bentos pada suatu ekosistem perairan, sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan biotik dan abiotik. Faktor biotik yang berpengaruh diantaranya adalah produsen, yang merupakan salah satu sumber makanan bagi hewan bentos. Faktor abiotik yang berpengaruh yaitu fisik-kimia air yang diantaranya: suhu, kecepatan arus, oksigen terlarut (Disolved oxygen), kebutuhan oksigen biologi (Biological oxygen disolved) dan kimia (Chemical oxygen disolved) serta kandungan nitrogen (N), kedalaman air, dan substrat dasar. (Allard and Moreau 1987; APHA 1952).
Barnes dan Hughes (1999) dan Nybakken (1997) menyatakan bahwa berdasarkan keberadaannya di perairan, maka makrozoobentos dapat dibagi menjadi dua bagian. Makrozoobentos yang hidupnya merayap di permukaan dasar perairan disebut epifauna, contohnya Crustacea dan larva serangga. Sedangkan makrozoobentos yang hidup pada substrat lunak di dasar lumpur disebut infauna, misalnya Bivalve dan Polychaeta.
Sebagai organisme dasar perairan, bentos mempunyai habitat yang relatif tetap. Oleh karena sifatnya yang demikian, perubahan-perubahan kualitas air dan substrat tempat hidupnya sangat mempengaruhi komposisi maupun kelimpahannya.  Komposisi maupun kelimpahan makrobentos bergantung pada toleransi atau sensitivitasnya terhadap perubahan lingkungan.  Setiap komunitas memberikan respon terhadap perubahan kualitas habitat dengan cara penyesuaian diri pada struktur komunitas. Lingkungan yang relatif stabil, komposisi dan kelimpahan makrobentos relatif tetap (APHA 1952). 
Read more