Showing posts with label MATERI DAN REFERENSI. Show all posts
Showing posts with label MATERI DAN REFERENSI. Show all posts

Thursday, December 19, 2013

VARIASI ANTAR INIDIVIDU PERIKANAN

kali ini sharing "TinPus sampai DaPus" praktikum ekologi perairan tentang Variasi Antar Individu. dah lupa sih semester berapa.he...

          II. TINJAUAN PUSTAKA VARIASI ANTAR INIDIVIDU

    Keanekaragaman hayati didefinisikan sebagai kekayaan hidup di bumi, jutaan tumbuhan, hewan dan mikroorganisme, genetika yang dikandungnya menjadi lingkungan hidup. Keanekaragaman hayati pada tingkat spesies mencakup seluruh organisme di bumi, dari makhluk hidup di tingkat terendah sampai tertinggi. Skala yang lebih kecil mencakup variasi genetic, diantara populasi yang terpisah secara geografis antara individu di dalam suatu populasi (Primack, 1997).

    Keanekaragaman dari suatu populasi yang sama dapat terjadi jika sebagian dari spesies tersebut terpisah dan terisolasi kedalam suatu lingkungan yang baru, sehingga dapat terbentuk suatu spesies baru yang berbeda dari spesies awalnya (Orians, 1969). Adaptasi merupakan suatu proses evolusi kondisi lingkungan tertentu dan sifat genetik yang membuat sifat organisme menjadi lebih mampu untuk bertahan hidup. Aklimasi merupakan modifikasi sifat fenotip organisme oleh lingkungan (McNaughton, 1973).

    Pertumbuhan adalah pertambahan ukuran panjang / berat dalam waktu tertentu. Pertumbuhan merupakan proses biologis yang komplek yang dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor yang paling utama antara lain adalah faktor dari dalam dan faktor dari luar (Effendie, 1997). Berbeda dengan faktor dari luar seperti makanan dan suhu perairan, faktor dalam yang meliputi keturunan, jenis kelamin, umur, parasit, dan penyakit umumnya lebih sulit dikontrol. (Effendie, 1979).

    Perbedaan seperti berat, panjang, dan tinggi yang terdapat pada spesies ikan biasanya disebut variasi antar individu. Populasi organisme yang hidup pada suatu habitat akan sama persis atau bersifat identik. Keragaman merupakan fenomena normal yang terjadi pada organisme, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan (Odum, 1993). Menurut Ewusie (1990), keanekaragaman bisa diartikan sebagai keadaan yang berbeda atau yang memiliki beberapa perbedaan dalam bentuk dan sifat. Untuk daerah tropis keanekaragaman dapat dilihat dari dua lingkaran, yaitu jumlah besar spesies dalam bentuk kehidupan serupa, dan kehadiran banyak spesies dengan wujud kehidupan yang sangat berbeda. Keanekaragaman organisme adalah baik dan memiliki nilai intrinsik, spesies memiliki nilai tersendiri tanpa mempedulikan nilai materinya bagi masyarakat. Keanekaragaman spesies mewakili adaptasi evolusi dan ekologi suatu spesies pada lingkungan tertentu (Primack, 1997).

I.     Pembahasan

1.       Karakteristik ikan uji
a.       Ikan Tawes ( Puntius    javanicus)
      Ikan tawes adalah ikan peliharaan yang berasal dari sungai. Ciri-ciri morfologi tawes berwarna abu-abu keputihan, sisiknya putih dan berwarna lebih gelap. Badannya pipih kesamping (Compressed) dan memanjang dengan bentuk punggung seperti busur. Mulutnya runcing dan agak ditengah, kecil, dan mempunyai dua pasang sungut yang sangat kecil. Ikan tawes memiliki sirip ekor, sirip punggung, sirip dubur, dan sirip ekor (Anonim, 2007).

Menurut Saanin (1968) ikan tawes dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Filum          :Chordata
Kelas          :Pisces
Ordo           : Osteriophysi
Familia:Cprinidae
Genus         :Puntius
Spesies:Puntius javanicus

b.       Ikan Nila merah (Oreochromis sp.)
      Ikan nila mempunyai kepala yang relatif besar jika dibandingkan dengan tubuhnya. Tubuh ikan nila panjang dan ramping, mempunyai panjang tidak lebih dari 40 cm. Tubuh, sirip ekor, sirip punggung, dan sirip perut bergaris-garis tegak lurus dengan siripnya. Perbandingan antara panjang total dan tinggi tubuh ikan betina 3:1, sedangkan ikan nila jantan 2:1. Mempunyai mata yang besar dan menonjol, bagian tepi mata berwarna putih, badan relatif tebal dan kekar. Toleransi ikan ini sangat besar terhadap salinitas . Tidak hanya hidup di perairan air tawar, ikan ini juga ditemukan hidup dan berkembang pesat pada perairan air tawar seperti tambak. Ikan nila adalah pemakan  plankton perifion atau tumbuhan air yang lunak, bahkan cacing juga merupakan salah satu makanannya (Cahyono,2000). Warna tubuh ikan kemerahan. Ikan nila mempunai garis ventral 9-11 buah garis pada sirip ekor. Garis lateralis terputus dan dilanjutkan dengan garis yang terletak lebih bawah.
       Nila merah (Orechromis sp.) merupakan jenis introduksi  dari Taiwan yang didatangkan ke Bogor pada tahun 1969. Nama Nila ditetapkan oleh Direktorat jendral Perikanan pada tahun 1972, diambil dai nama ilmiah ikan ini yaitu Niloeica yang diubah menjadi Nila (Jangkaru dkk. 1991). Nila merah mulai dikenl di Indonesia pada tahun 1981 (Anonim, 1988).
 Kondisi perairan yang sesuai untuk pertumbuhan nila merah yaitu perairan dengan kepadatan plankton dan perifiton yang cukup, pH 6,5-9, oksigen terlarut 3 ppm, CO2 bebas kurang dari 10 pm, kekeruhan air 25-30 ppm, dan alkalinitas 50-500 ppm ekuivalen CaCO3,(Anonim,1998). Suhu air yang optimal untuk pertumbuhan ikan golongan Oreochromis berkisar antara 25-35°C (Anonim, 1989). Nila merah mempunyai sirip berjari-jari keras dan lemah serta bersisik clenoid (Sihotang, 1980). Sirip punggung memiliki rumus (XV,10), sirip perut (VI,6), dan sirip ekor (II,15) (Anonim, 1991).
                 
            Menurut Saanin (1968), Nila merah dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Filum                : Chordata
Sub filum         : Vertebrata
Kelas                : Oetoichthyas
Sub kelas          : Acanthoptarigii
Ordo                : Parcomorphi
Sub ordo          : Parcoidea
Familia             : Cichlidan
Genus               : Oreochromis
Spesies            : Oreochromis  sp.
 2.      Pembahasan perspesies
a.       Ikan Tawes (Puntius  javanicus)
Menurut perhitungan yang dilakukan terhadap data perbandingan antara panjang baku dan tinggi diperoleh nilai mean = 2,826, modus = 2,804, standar deviasi = 1,1189. Nilai mean= 2,826 merupakan rata-rata dari perhitungan distribusi frekuensi perbandingan PB/T. Pada ikan tawes nilai tersebut terdapat pada kelas interval 2,763- 3,008. Nilai mean menunjukkan bahwa rata-rata spesies (Puntius   javanicus) yang diamati memiliki nilai panjang baku 2,826 kali lebih panjang dari tinggi tubuh sehingga dapat disimpulkan bentuk tubuh ikan tawes memanjang.
 Nilai modus sebesar 2,927 menunjukkan nilai perbandingan antara panjang baku dan tinggi tubuh spesies Puntius javanicus yang paling sering muncul pada kisaran 2,927. Nilai sekian terdapat pada interval 2,763-3008. Hal tersebut menunjukkan bahwa 2,927 adalah ukuran dominan pada sample data ikan tawes.
 Nilai standar deviasi yang diperoleh 1,1189. Nilai standar deviasi adalah ukuran sebaran varian standar dari perbandingan tinggi tubuh dengan panjang baku. Kisaran sebaran variasi dinyatakan dengan rumus µ ± Sd. Nilai sebaran tersebut adalah 2,826 ± 1,1189 artinya nilai sebaran atau variasi ikan tawes sekitar 1,707 – 3,944.
Hasil olah data menghasilkan nilai korelasi = 0,9215, perhitungan uji t pada tingkat kepercayaan 95% dan a = 5% didapat nilai thit PB Vs T sebesar 12, 3288 dan nilai ttabel sebesar 1,701 maka menunjukkan bahwa t hit > t table sehingga Hi diterima dan Ho ditolak. Hi diterima berarti ikan yang memiliki panjang baku yang panjang akan diikuti oleh pertambahan tinggi ikan, maka pada PB Vs SH terdapat beda nyata. Beda nyata berarti terdapat hubungan yang selalu berbanding lurus antara 2 hal yang dibandingkan dengan pengamatan, maka antara panjang baku dan tinggi tubuh ikan memiliki hubungan yang berbanding lurus. Semakin besar panjang baku seekor ikan akan diikuti oleh tubuh ikan tersebut yang semakin tinggi.

b.       Ikan Nila merah (oreochromis sp.)
Menurut perhitungan yang dilakukan terhadap data perbandingan antara panjang baku dan tinggi diperoleh nilai mean = 2,5527, modus = 2,6106, standar deviasi = 0,875. Nilai mean = 2,5527 merupakan rata-rata dari perhitungan distribusi frekuensi perbandingan PB/T. Pada ikan nila. Nilai tersebut terdapat pada kelas interval 2,763- 3,008. Nilai mean menunjukkan bahwa rata-rata nilai ratio perbandingan panjang baku dan tinggi tubuh 29 ekor ikan nila merah yang didapat saat pengamatan. Nilai mean = 2,5527 menunjukkan bahwa rata-rata spesies Oreochromis sp. yang diamati memiliki nilai panjang baku 2,5527 kali lebih panjang dari tinggi tubuh sehingga dapat disimpulkan bentuk tubuh ikan nila memanjang.
Nilai modus sebesar 2,6106 menunjukkan nilai yang paling sering muncul pada data adalah 2,6106 dan berada pada interval 2,763-3008. Hal tersebut menunjukkan bahwa 2,6106 adalah ukuran dominan pada sample data ikan nila merah.
Nilai standar deviasi yang diperoleh 0,875,  nilai standar tersebut menunjukkan besarnya penyebaran nilai data perbandingan antara panjang baku dan tinggi tubuh pada 29 ekor ikan nila merah.deviasi adalah ukuran sebaran varian standar dari perbandingan tinggi tubuh dengan panjang baku. Kisaran sebaran variasi dinyatakan dengan rumus µ ± Sd. Nilai sebaran tersebut adalah 2,5527 ± 0,875 artinya nilai sebaran atau variasi ikan nila merah sekitar 1,677- 3,409.
Hasil olah data menunjukkan nilai korelasi = 0,9425, perhitungan uji t pada tingkat kepercayaan 95% dan a = 5% didapat nilai thit PB Vs T sebesar 14,6538 dan nilai ttabel sebesar 1,701 maka menunjukkan bahwa t hit > t table sehingga Hi diterima dan Ho ditolak. Hi diterima berarti ikan yang memiliki panjang baku yang panjang akan diikuti oleh pertambahan tinggi ikan, maka pada PB Vs SH terdapat beda nyata. Beda nyata berarti terdapat hubungan yang selalu berbanding lurus antara 2 hal yang dibandingkan dengan pengamatan, maka antara panjang baku dan tinggi tubuh ikan memiliki hubungan yang berbanding lurus. Semakin besar panjang baku seekor ikan akan diikuti oleh tubuh ikan tersebut yang semakin tinggi.

3. Pembahasan Antar Spesies
Keanekaragaman spesies dalam sebuah populasi ditunjukkan pada nilai mean dan standar deviasi. Perbandingan nilai mean antara ikan tawes dan ikan nila merah adalah 2,826 dan 2,5527. Berdasarkan nilai tersebut maka ikan tawes cenderung lebih panjang dibandingkan dengan ikan nila merah.
 Perbandingan nilai standar deviasi pada ikan nila tawes dan ikan nila merahdapat dilihat dari data yaitu 1,1189 dan 0,875 sehingga perbandingan tersebut dapat dijadikan acuan dalam menentukan keanekaragaman antar spesies. Dari perhitungan data dapat disimpulkan bahwa ikan tawes memiliki keanekaragaman yang lebih tinggi dibandingkan dengan ikan nila merah.
 Faktor yang dapat mempengaruhi keanekaragaman antar spesies, yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Beberapa faktor lainnya adalah faktor umur, jenis ikan, keturunan, serta jenis kelamin.

 
 II. KESIMPULAN

1.  Variasi antar individu dalam satu spesies dipengaruhi oleh faktor genetic (keturunan) dan faktor lingkungan (faktor fisika, kimia, biologi, dan persaingan makanan)
2.     Variasi antar spesies lebih terlihat dalam hal bentuk, yaitu morfologi ikan tawes lebih panjang dari ikan nila merah
3.      Ikan tawes memiliki keanekaragaman yang lebih tinggi dibandingkan ikan nila merah.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Puntius   javanicus. <http:// www.fishbase.org>. Diakses 2 Februari 
Effendie, M.I. 1997. Biologi   Perikanan. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusantara
Mcnaughton,S.J. 1973. General   Ecology. Second edition. Saunders Colledge Publishing
Odum, E.P. 1993. Dasar- Dasar  Ekologi. Edisi III. Yogyakarta ; Gadjah Mada Unversity press
Primack, R.B. 1997. A Primer of Conversation Biology. S. Inaver Assosiated Inc.
Saanin, H. 1995. Taksonomi dan identifikasi Ikan jilid 1 dan 2. Bina cipta, Jakarta
Sastrapradja, Didin S. 1989. Keanekaragaman  Hayati  Untuk  Kehidupan  Bangsa. Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi LIPI, Bogor.




Read more

Wednesday, December 11, 2013

Bubu atau Traps and Pots



Kalau hari ini mau nulis apa ya, ngumpulin laporan seminar 1 sks jaman kuliah ajalah...buat teman-teman perikanan untuk tugas penangkapan ikan juga bisa, semoga bermanfaat, jangan lupa apresiasi komen atau sharing ke facebook/twitter/path/apa pun. terima kasih..

I. KONSTRUKSI DAN TEKNIK BUBU (Traps and Pot)
A. Konstruksi Bubu
            Bubu merupakan alat tangkap yang umum dikenal di kalangan nelayan variasi bentuknya banyak sekali, hamper setiap daerah perikanan mempunyai model bentuk sendiri. Bentuk bubu ada yang seperti: sangkar (cages), silinder (cylindrical), gendang, segitiga memanjang (kubus) atau segi banyak, bulat setengah lingkaran, dan lain-lainnya. Bahan bubu umumnya dari anyaman bambu (bamboo’s splitting or-screen). Secara garis besar bubu terdiri dari bagian-bagian badan (body), mulut (funnel) atau ijeb, dan pintu (Partosuwiryo, 2002).
Bubu dapat digunakan untuk menangkap ikan hias maupun ikan yang hidup di karang lainnya. Kelemahan bubu konvensional adalah pemasangan biasanya menggunakan karang sebagai jangkar penahan sehingga merusak karang. Ikan baru dapat dipanen setelah bubu diletakkan selama satu malam atau lebih. Untuk mengetahui berapa ikan yang telah terperangkap, nelayan harus mengangkat bubu ke permukaan atau nelayan menyelam. Keuntungan bubu adalah ikan tertangkap hidup-hidup dan hanya ikanikan jenis tertentu saja yang tertangkap (tergantung besar pintu dan ukuran mata jaring) (IMAI, 2001).
Umumnya bubu digunakan terdiri dari tiga bagian yaitu:
1. Badan atau tubuh bubu
Badan atau tubuh bubu umumnya terbuat dari anyaman bambu yang berbentuk empat persegi panjang. Bagian ini dilengkapi pemberat dari batu bata (atau pemberat lain) yang terletak pada keempat sudut bambu agar bubu dapat tenggelam ke dasar perairan.
2. Lubang tempat mengeluarkan hasil tangkapan
Lubang tempat mengeluarkan hasil tangkapan terletak pada sisi bagian bawah bubu. Lubang ini posisinya tepat di belakang mulut bubu dan dilengkapi dengan penutup.
3. Mulut Bubu
Mulut bubu berfungsi untuk tempat masuknya ikan yang terletak pada bagian depan badang bubu. Posisi mulut bubu mejorok ke dalam badan atau tubuh bubu berbentuk silinder. Semakin ke dalam diameter lubangnya semakin mengecil. Pada mulut bagian dalam melengkung ke bawah. Lengkungan ini berfungsi agar ikan yang masuk sulit untuk meloloskan diri ( Sudirman dan Mallawa, 2004).
Gambar 1. Mulut bubu dan arah masuk ikan
(FAO, 2007)

Gambar 2. Bagian bubu secara keseluruhan
(FAO, 2007)


Gambar 3. Jenis-Jenis Bubu
(Partosuwiryo, 2008)



Read more

Sunday, December 8, 2013

MAKALAH KONSERVASI LATAR BELAKANG TINJAUAN PUSTAKA DAFTAR PUSTAKA



BAB I
LATAR BELAKANG

Perikanan di Indonesia memiliki bermacam potensi yang terdapat didalamnya, salah satunya potensi dari bidang perikanan berada di wilayah pesisir pantai. Daerah pesisir pantai merupakan daerah yang berhubungan langsung dengan laut sehingga apabila dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan akan didapatkan hasil yang diharapkan. Masyarakat pesisir sangat menggantungkan hidupnya pada potensi perikanan yang berada di daerahnya, misalnya terumbu karang, hutan mangrove, maupun rumput laut. Nilai ekonomi yang tinggi dalam pemanfaatan potensi tersebut sangat tergantung dari berbagai macam faktor antara lain adalah modal usaha, perijinan, iklim, ombak, angin, dsb. Salah satu cara yang dapat ditempuh agar usaha dalam bidang perikanan dapat berjalan terus-menerus adalah dengan adanya optimalisasi hasil yang diperoleh secara berkelanjutan dan bertanggung jawab, serta adanya langkah konservasi dalam menjaga keberlangsungan pemanfaatan sumberdaya perikanan tersebut.
Berbagai macam fungsi terumbu karang di alam dan bermanfaat bagi manusia. Beberapa fungsi terumbu karang adalah sebagai pelindung ekosistem pantai.Terumbu karang akan menahan dan memecah energi gelombang sehingga mencegah terjadinya abrasi dan kerusakan di sekitarnya. Selain itu terumbu karang sebagai penghasil oksigen.Terumbu karang memiliki kemampuan untuk memproduksi oksigen sama seperti fungsi hutan di daratan, sehingga menjadi habitat yang nyaman bagi biota laut. Terumbu karang juga sebagai habitat bagi banyak jenis makhluk hidup. Terumbu karang menjadi tempat bagi hewan dan tanaman yang berkumpul untuk mencari makan, berkembang biak, membesarkan anaknya, dan berlindung. Bagi manusia, terumbu karang mempunyai manfaat yang sangat besar, baik untuk sumber makanan maupun mata pencaharian mereka. Fungsi terumbu karang yang dimanfaatkan oleh manusia lainnya adalah sebagai sumber obat-obatan, bahan bangunan, dan perindustrian. Pada terumbu karang banyak terdapat bahan-bahan kimia yang diperkirakan bisa menjadi obat bagi manusia, daerah penelitian, objek wisata, maupun nilai spiritual.
Menurut Burke et al. (2002), terumbu karang banyak tersebar di daerah tropis dan subtropics, terutama di dekat garis khatulistiwa. Ekosistem hanya mampu tumbuh di perairan laut dangkal pada kedalaman 18-29 m dengan suhu 21-29oC. Selain itu cahaya matahari menjadi sumber kehidupan utama bagi alga untuk berfotosintesis. Hewan-hewan yang hidup disini juga membutuhkan salinitas yang tinggi serta air bersih untuk dapat bertahan hidup.
BAB II
STUDY AREA

Taman Nasional Bunaken adalah taman laut yang terletak di Sulawesi Utara lebih tepatnya di  kabupaten Minahasa, kotamadya Manado, Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia. Taman Nasional Bunaken menjadi habitat yang cocok bagi bermacam-macam terumbu karang, ikan, dan biota lainnya. Taman Nasional Bunaken secara resmi didirikan pada tahun 1991 yang ditunjuk Menteri Kehutanan dengan SK No. 730/Kpts-II/1991dan pada tahun 2005 Indonesia mendaftarkan taman nasional ini kepada UNESCO untuk dimasukan kedalam Situs Warisan Dunia.
Kondisi Fisik
Menurut Anonim 2011a, luas taman Nasional Bunaken sebesar 89.065 hektar dan memiliki letak geografis di 1°35’ - 1°49’ LU,  124°39’ - 124°35’ BT. Selain itu, taman tersebut memiliki pulau-pulau yang dapat dilihat pada:
1.      Pada bagian Utara terdiri dari pulau Bunaken, pulau Manado Tua, pulau Montehage, pulau Siladen, pulau Nain, pulau Nain Kecil, dan sebagian wilayah pesisir Tanjung Pisok.
2.      Pada bagian Selatan meliputi sebagian pesisir Tanjung Kelapa.
Taman Nasional Bunaken memiliki temperatur udara antara 26° - 31°C, sehingga taman tersebut memiliki kondisi yang sesuai bagi kehidupan organisme air yang hidup di perairan. Apabila dilihat dari ketinggian tempat, Taman Nasional Bunaken memiliki ketinggian antara 0 – 800 meter dpl.  Taman tersebut juga memiliki salinitas antara 33 - 35 °/OO dan kecerahan antara 10 - 30 m. Melalui besarnya salinitas dan kecerahan tersebut maka terumbu karang yang terdapat di taman tersebut dapat berkembang secara baik. Sedangkan dilihat dari pasang surut di taman tersebut memiliki pasang surut yang cukup tinggi yaitu 2,5 meter dan dilihat dari curah hujan memiliki curah hujan antara 2.500 – 3.500 mm/tahun, namun setelah adanya global warming curah hujan berubah-ubah dan sulit untuk diperkirakan.

BAB III
METODE

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penyusunan makalah ini sebagian besar diperoleh dengan penelusuran data dari internet.  Pemilihan metode tersebut didasarkan pada kemudahan serta akses yang cepat dalam pencarian data sehingga lebih efisien waktu dan tenaga. Dalam penyusunan makalah ini juga menemukan beberapa kekurangan dalam penggunaaan metode tersebut sehingga terdapat kesulitan dalam penyusunan makalah. Namun hal tersebut bisa diatasi dengan lebih menyederhanakan masalah menjadi lebih spesifik, sehingga penyusunan data menjadi lebih mudah. Selain itu, penyusunan makalah juga dibantu dengan membaca beberapa referensi buku yang ada sehingga sangat membantu dalam penyusunan makalah. Adapun metode diskusi kelompok dimana metode tersebut selalu digunakan dalam setiap pertemuan, terutama dalam merumuskan masalah serta dalam melengkapi penyusunan makalah ini.

Read more

OSEANOGRAFI PERIKANAN



Kalau bab ini biasanya dipakai semester IV. tentang Oseanografi kelautan. Semoga bermanfaat dan jangan pernah lupa akan materi apa yang dikutip dengan disertakan pengarang/penemu/penulisnya ya. Semangat Mahasiswa Perikanan Nusantara!
Oseanografi dapat didefinisikan secara sederhana sebagai suatu ilmu yang mempelajari lautan yang  meliputi berbagai ilmu dasar dan terapan antara lain fisika, kimia, biologi, ilmu tanah, ilmu bumi, dan juga ilmu iklim. Menurut Hutabarat dan Evans (1984) ilmu oseanografi dapat dibagi menjadi 4 cabang ilmu yaitu: Fisika Oseanografi, Geologi Oseanografi, Kimia Oseanografi, dan Biologi Oseanografi.

1. Parameter Fisik
a. Pasang Surut
Pasang surut dikenal ada dua macam yaitu spring tide, di mana air pasang memiliki tinggi maksimum dan neap tide, di mana air pasang memiliki tinggi minimum.Biasanya terjadi dua siklus lengkap tiap bulan yang berhubungan dengan fase bulan. Spring tide terjadi pada saat bula purnama dan bulan baru dan neap tide terjadi pada saat perempatan bulan pertama dan perempatan bulan ketiga (Hutabarat, 1984).
b. Gelombang
Gelombang merupakan gerakan naik turunnya permukaan air laut yang disebabkan oleh angin maupun faktor lain. Setiap gelombang memiliki tiga unsur yang penting, yaitu: panjang, tinggi, dan periode gelombang. Panjang gelombang adalah jarak mendatar antara 2 puncak berurutan. Tinggi gelombang adalah jarak menegak antara puncak dan lembah. Periode gelombang adalah waktu yang diperlukan oleh dua puncak yang berurutan untuk memulai suatu titik (Nontji, 1993).
c. Angin
Angin disebabkan adanya perbedaan tekanan udara yang merupakan hasil dari pengaruh ketidak seimbangan pemanasan sinar matahari terhadap tempat-tempat yang berbeda di permukaan bumi. Keadaan ini mengakibatkan naiknya sejumlah besar massa udara yang ditandai dengan timbulnya sifat khusus yaitu terdapatnya tekanan udara yang tinggi dan rendah (Hutabarat dan Evans, 1996).
d. Kemiringan Pantai
Kemiringan pantai ditentukan dengan cara mengukur perbedaan ketinggian pada dua titik horizontal yang jarak antara kedua titik telah diketahui. Kemiringan pantai sangat berperan dalam drainase air terutama dalam usaha budidaya pantai. Kemiringan yang sangat besar sangat tidak baik buat budidaya. Sebaliknya, pantai yang datar cukup menyulitkan dalam proses pengeringan kolam tambak. Pantai yang landai menyebabkan jangkauan pasang surut mencapai ratusan meter, sedangkan pantai yang terjal menyebabkan jangkauan pasang surut hanya mampu mencapai beberapa puluh meter saja. Tipe kemiringan pantai ada 3, yaitu: datar (± 5%), landai (± 10%) dan curam (± 20%) (Anonim, 2009).
e. Suhu
Suhu adalah ukuran energi gerakan molekul, suhu dalam lautan bervariasi sesuai dengan kedalaman. Massa air permukaan di wilayah tropik panas sepanjang tahun yaitu 20o-30o C sedangkan massa air permukaan pada zone beriklim sedang hangat di musim panas (Nybakken, 1992).

2. Parameter Kimia
a. Kadar Oksigen Terlarut (DO)
Kelarutan oksigen di laut sangat penting artinya dalam mempengaruhi kesetimbangan kimia di air laut. Oksigen diperlukan  untuk respirasi, sedangkan proses fotosintesis oleh tumbuhan air akan menghasilkan oksigen. Oksigen terlarut mungkin merupakan parameter pengubah kualitas air yang paling kritis pada organisme perairan. Atmosfer merupakan cadangan udara terbesar namun oksigen tersebut hanya sedikit yang larut dalam air (Cholik, 1979).
b. Karbon Dioksida (CO2)
Karbondioksida merupakan bahan dasar dalam fotosintesis, tetapi jika dalam konsentrasi yang tinggi dapat bersifat menghambat penyerapan O2 oleh darah dalam tubuh ikan. Kandungan CO2 bebas sebaiknya tidak melampaui 25 ppm dan kandungan O2 selalu tersedia dalam jumlah cukup. Perairan dengan kandungan O2 terlarut 2 ppm. Konsentrasi CO2 sebesar 12 ppm masih cukup aman bagi kehidupan ikan (Triyatmo, 2001).
c. Alkalinitas
Alkalinitas adalah kapasitas air untuk menetralkan tambahan asam tanpa penurunan nilai pH larutan. Alkalinitas merupakan pertahanan air terhadap pengasaman oleh adanya ion-ion Ca2+ dan HCO3- dalam air (Odum, 1993).
d. Derajat Keasaman(PH)
Air murni memiliki pH netral karena disosiasi molekul air menghasilkan jumlah ion-ion H+ dan OH- yang sama, namu kehadiran CO2, dan ion-ion Na, Ca, K yang bersifat basa kuat mengubah keadaan ini sehingga air laut bersifat sedikit basa, pH berkisar 7,5-8,5. Aspek kimiawi berupa asam-basa suatu perairan akan mempengaruhi beberapa kondisi perairan yang lainnya misalnya kehidupan biologis dan mikrobiologis (Welch 1952).
e. Salinitas
Parameter yang penting dalam sirkulasi untuk mempelajari asal usul massa air adalah salinitas. Salinitas adalah jumlah kandungan garam dari suatu perairan, yang dinyatakan dalam permil. Kisaran salinitas air laurt berada antara 0 – 40 o/oo, yang berarti kandungan garam berkisar antara 0 – 40 g/kg air laut. Secara umum, salinitas permukaan perairan Indonesia rata-rata berkisar antara 32 – 340/00 (Dahuri dkk, 1996).
f. Total Suspended Solid (TSS)
Total Suspended Solid merupakan padatan tersuspensi total yang tertahan pada kertas saringan dan terdiri dari lumpur maupun pasir halus yang berasal dari erosi atau kikisan tanah yang masuk ke badan air. TSS menunjukan nilai banyaknya zat-zat yang terlarut dalam suatu perairan. Besar kecilnya nilai TSS (Total Solid Suspension) dipengaruhi oleh kandungan bahan organik dalam perairan. Semakin sedikit bahan organik maka semakin kecil nilai TSS.Namun sebaliknya, semakin banyak bahan organiknya maka TSS semakin besar (Nybakken, 1992).

3. Parameter Biologi
Aspek biologi suatu perairan dapat dipengaruhi oleh parameter plankton dan bentos yang ada di dalamnya. Plankton terdiri dari fitoplankton, yaitu tumbuhan-tumbuhan air yang sangat kecil yang terdiri dari sejumlah kelas yang berbeda dan zooplankton adalah suatu grup yang terdiri hewan-hewan yang sangat banyak ragamnya termasuk Protozoa, Coelenterata, Mollusca, Anellida, Crustacea (Hutabarat dan Evans, 1985).

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2009. Petunjuk Praktikum Oseanografi. Laboratorium Ekologi Perairan. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan. Jurusan Perikanan. Fakultas Pertanian. UGM. Yogyakarta.
Cholik, 1979. Kualitas Air. Dirjen Perikanan, Departemen Pertanian RI. Jakarta.
Dahuri, R., J. Rais., Ginting, S. P., Sitepu, M. J. 1996. Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. PT Pradnya Paramita. Jakarta.
Hutabarat,S. dan Evans, S.M, 1984. Pengantar Oseanografi. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.
Nontji, A.1993. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan. Jakarta.
Nybakken, J. 1992. Biologi Laut; Suatu Pendekatan Ekologi. Gramedia. Jakarta.
Odum,E.P. 1993. Dasar-dasar Ekologi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Triyatmo, B. 2001. Studi Kondisi Limnologis Waduk Sermo pada Tahap Pra-Inundasi. Jurnal Perikanan. UGM. Yogyakarta.
Welch, Paul. 1952. Limnology. Mc Graw Hill Book Company. New York.



"Jalesveva Jayamahe" 
"Di Lautan Kita Jaya"
Read more