Thursday, May 31, 2012

DATA HISTOGRAM SUNGAI


           Menurut Anonim A (2011), histogram adalah tampilan grafis dari tabulasi frekuensi yang digambarkan dengan grafis batangan sebagai manifestasi data binning. Tiap tampilan batang menunjukkan proporsi frekuensi pada masing-masing deret kategori yang berdampingan dengan interval yang tidak tumpang tindih. Kata histogram berasal dari bahasa Yunani: histos, dan gramma. Pertama kali digunakan oleh Karl Pearson pada tahun 1895 untuk memetakan distribusi frekuensi dengan luasan area grafis batangan menunjukkan proporsi banyak frekuensi yang terjadi pada tiap kategori dan merupakan salah satu dari 7 basic tools of quality control yaitu Pareto chart, check sheet, control chart, cause-and-effect diagram, flowchart, dan scatter diagram. Informasi dalam bentuk tabel biasanya menjadi lebih mudah dipahami bila disajikan dalam bentuk grafik. Untuk data numerik umumnya digunakan histogram, penyajian data lainnya disebut histogram frekuensi. Bila sumbu tegak yang digunakan adalah frekuensi kumulatif atau presentase maka grafiknya disebut histogram kumulatif (Anonim B, 2008).
Sungai yang merupakan suatu ekosistem akuatik masuk ke dalam kelompok ekosistem riverin (Ismail, 1992). Sungai merupakan ekosistem air tawar yang bergerak satu arah (lotik). Daerah tepi sungai akan menentukan ciri khas dari suatu sungai, misalnya daerah dengan kemiringan besar akan membuat kecepatan arus sungai besar pula. Organisme yang hidup pada arus deras dan daerah lubuk (tidak deras) akan berbeda satu dengan lainnya.  Menurut Lagler (1977), Ikan merupakan hewan bertulang belakang (vertebrata), berdarah dingin (poikilotermik), yaitu  sebagian besar hidupnya berada di air, pergerakan dan keseimbangan badan terutama dengan sirip dan sebagian besar bernafas dengan insang. Ikan dapat ditemukan di berbagai perairan baik tawar, payau, maupun laut. Semua fungsi penting ikan misalnya pergerakan, pencernaan, pertumbuhan, reproduksi, dan respon terhadap rangsangan luar tergantung pada air. Menurut Odum (1993), berdasarkan tingkatan dasar sungai, tingkat sungai dapat dibagi menjadi tiga zona, yaitu : mudik (upper), batang sungai (middle), dan hulu (reach). Berdasarkan sifat yang menunjukkan habitat ikan atau hewan air tawar, sungai dapat dibagi menjadi enam daerah, yaitu:
1.      Hulu (reach)
2.      Jangkauan (riffles)
3.      Kedung (pool)
4.      Genangan (flow)
5.      Aliran kembali (backwater)
6.      Daerah banjir (flood water).
Dasar aliran air (sungai) biasanya terdiri atas pasir, lumpur, atau batu. Aliran air (sungai) yang mempunyai dasar batu atau pasir biasanya menghasilkan variasi dasar yang terbesar dan terpadat. Umumnya invertrebata bentik mempunyai kerapatan yang lebih tinggi pada komunitas air deras, sementara nekton dan bentuk-bentuk penggali dalam aliran air seperti kerang, ogenata penggali, dan Ephemerophtera lebih banyak ditemui pada air tenang. Ikan dari aliran air biasanya beristirahat di air tenang dan makan tergantung arus deras (Odum 1993).

Read more

Friday, April 27, 2012

KROMOSOM SEL

Benang-benang linin pada tahap profase nampak makin lama makin terputus-putus. Satu potong benang disebut kromonema. Kromonema itu sedikit demi sedikit dikelilingi oleh sitoplasma yang memadat seakan-akan merupakan bungkus (wadah) bagi kromonema, wadah ini disebut matriks. Matriks dengan kromonema di dalamnya disebut kromosom (Dwidjoseputro 1977).
Setiap kromosom mempunyai bagian yang menyempit dan tampak lebih terang disebut sentromer, yang membagi kromosom menjadi dua lengan. Pengaturan kromosom secara standar berdasarkan panjang, jumlah serta bentuk kromosom dari sel somatis suatu individu dinamakan karyotipe. Masing-masing kromosom seringkali sulit dibedakan sehingga banyak ahli yang tidak suka menggunakan nomor urut 1 – 22 untuk autosom, melainkan dengan cara mengelompokkan menjadi A – G berdasarkan ukuran kromosom serta letak dari sentromer (Suryo 1997).
Menurut Subowo (1979), kromosom berdasarkan jumlah sentromernya dapat dibedakan menjadi :
a.    Kromosom monosentrik, mempunyai satu sentromer.
b.    Kromosom disentrik, mempunyai dua sentromer.
c.    Kromosom polisentrik, mempunyai lebih dari dua sentromer.
Perbedaan kelamin ditandai dengan sifat-sifat menurun tertentu yang jelas. Kromosom kelamin selalu berhubungan dengan ada atau tidak adanya sifat-sifat tersebut yang merupakan bukti dari teori keturunan. Setiap gamet mengandung sebuah kromosom kelamin. Zigot pada mamalia yang menerima dua kromosom X berkembang menjadi betina. Zigot yang mengandung sebuah kromosom X dan sebuah kromosom Y berkembang menjadi jantan. Kromosom kelamin dalam sel mani yang menentukan jenis kelamin keturunannya (Kimball 1993).
Menurut Suryo (1997), kromosom berdasarkan letak sentromer dapat dibedakan beberapa bentuk kromosom, yaitu :
a.    Metasentris, apabila sentromer terletak median (kira-kira ditengah kromosom), sehingga kromosom terbagi menjadi dua lengan sama panjang dan mempunyai bentuk seperti huruf V.
b.    Submetasentris, apabila sentromer terletak submedian (ke arah salah satu ujung kromosom), sehingga kromosom terbagi menjadi dua lengan tak sama panjang dan mempunyai bentuk seperti huruf J.
c.    Akrosentris, apabila sentromer terletak subterminal (di dekat ujung kromosom), sehingga kromosom tidak membengkok melainkan tetap lurus seperti batang. Satu lengan kromosom sangat pendek, sedang lengan lainnya sangat panjang.
d.    Telosentris, apabila sentromer terletak di ujung kromosom, sehingga kromosom hanya terdiri dari sebuah lengan saja dan berbentuk lurus seperti batang.
Kromosom kelamin menurut sistem X-Y adalah kromosom X dan kromosom Y. Kromosom kelamin juga mengalami pembelahan reduksi ketika gametogenesis gametogonium membelah. Betina akan terbentuk hanya satu macam ovum menurut kromosom kelamin, yaitu ovum-X. Jantan akan terbentuk dua macam sperma menurut susunan kromosom kelamin, yaitu sperma-X dan sperma-Y. Ovum-X atau sperma-X maksudnya yang mengandung kromosom kelamin X. Sperma-Y mengandung kromosom kelamin Y. Autosom pun mengalami pembelahan reduksi. Jika terjadi perkawinan karena gamet jantan ada dua macam dan gamet betina satu macam, maka perkawinan atau individu yang terjadi ialah dua menurut jenis kelaminnya. Sperma-X membuahi ovum-X terjadi individu XX betina dan sperma-Y membuahi ovum-X terjadi individu XY jantan. Bentuk kromosom kelamin sesungguhnya bukan seperti bentuk huruf X dan Y, tetapi hanya simbol saja. Kromosom X biasanya lebih panjang daripada kromosom Y (Yatim 1972).
Menurut Westra (1994), ada dua tipe kromosom yaitu :
a.    Autosome adalah kromosom pada sel-sel tubuh dan bentuknya sama pada jantan dan betina.
b.    Kromosom seks (sex chromosomes) menentukan jenis kelamin ikan. Kromosom seks secara morfologis pada individu jantan berbeda dengan betina.
Kromosom seks dapat dikenali dengan memasangkan sebagai pasangan pada karyotipe. Identifikasi kromosom seringkali berdasar pada ukuran dan perbedaan morfologi atau perbedaan kumpulan susunan dari pasangan kromosom antara karyotipe jantan dan betina. Ketika jantan adalah seks heterogametik, pasangan seks kromosom ditunjukkan dengan X-Y untuk jantan dan X-X untuk betina. Ketika betina adalah seks heterogametik, pasangan seks kromosom ditunjukkan dengan Z-W untuk betina dan Z-Z untuk jantan. Perbedaan antara kromosom seks tidak selalu jelas kelihatan;  pada beberapa ikan, kromosom seks tidak berbeda secara morfologi dengan kromosom yang lainnya (Schreck and Moyle 1990).
Karyotipe dibuat berdasarkan penyusunan kromosom pada tempat tertentu dalam deretan berdasarkan atas bentuknya (letak sentromer, panjang kromosom dan sebagainya). Pembuatan karyotipe diambil dari sel dalam tahap metafase dengan pemberian colchihin (Subowo 1979).
Lebih dari setengah jumlah ikan yang telah dipelajari, karyotipenya terdiri dari 48 atau 50 kromosom. Evolusi karyotipe terjadi pada beberapa jenis ikan seperti pada jenis-jenis ikan chimaera tertentu karyotipe hampir terdiri dari 100 kromosom, jenis ikan hering mencapai 52 kromosom dan pada species Sardina pilohardis mencapai 80 kromosom (Kirpichnikov 1981).
Analisis karyotipe dari suatu individu akan dapat diketahui apakah terdapat kelainan (abrasi) dari kromosom individu tersebut. Misalnya seorang yang berkaryotipe 47, XY.21 artinya jumlah kromosom individu 47, berjenis kelamin laki-laki dan kromosom nomer 21, lebih satu sehingga dapat diketahui bahwa seseorang ini mempunyai kelainan sindrom down (Suryo 1985).

Read more

Wednesday, April 4, 2012

PARAMETER FISIK, BIOLOGI, KIMIA LAUT


1. Parameter Fisik
a. Pasang Surut
Pasang surut dikenal ada dua macam yaitu spring tide, di mana air pasang memiliki tinggi maksimum dan neap tide, di mana air pasang memiliki tinggi minimum.Biasanya terjadi dua siklus lengkap tiap bulan yang berhubungan dengan fase bulan. Spring tide terjadi pada saat bula purnama dan bulan baru dan neap tide terjadi pada saat perempatan bulan pertama dan perempatan bulan ketiga (Hutabarat, 1984).
b. Gelombang
Gelombang merupakan gerakan naik turunnya permukaan air laut yang disebabkan oleh angin maupun faktor lain. Setiap gelombang memiliki tiga unsur yang penting, yaitu: panjang, tinggi, dan periode gelombang. Panjang gelombang adalah jarak mendatar antara 2 puncak berurutan. Tinggi gelombang adalah jarak menegak antara puncak dan lembah. Periode gelombang adalah waktu yang diperlukan oleh dua puncak yang berurutan untuk memulai suatu titik (Nontji, 1993).
c. Angin
Angin disebabkan adanya perbedaan tekanan udara yang merupakan hasil dari pengaruh ketidak seimbangan pemanasan sinar matahari terhadap tempat-tempat yang berbeda di permukaan bumi. Keadaan ini mengakibatkan naiknya sejumlah besar massa udara yang ditandai dengan timbulnya sifat khusus yaitu terdapatnya tekanan udara yang tinggi dan rendah (Hutabarat dan Evans, 1996).
d. Kemiringan Pantai
Kemiringan pantai ditentukan dengan cara mengukur perbedaan ketinggian pada dua titik horizontal yang jarak antara kedua titik telah diketahui. Kemiringan pantai sangat berperan dalam drainase air terutama dalam usaha budidaya pantai. Kemiringan yang sangat besar sangat tidak baik buat budidaya. Sebaliknya, pantai yang datar cukup menyulitkan dalam proses pengeringan kolam tambak. Pantai yang landai menyebabkan jangkauan pasang surut mencapai ratusan meter, sedangkan pantai yang terjal menyebabkan jangkauan pasang surut hanya mampu mencapai beberapa puluh meter saja. Tipe kemiringan pantai ada 3, yaitu: datar (± 5%), landai (± 10%) dan curam (± 20%) (Anonim, 2009).
e. Suhu
Suhu adalah ukuran energi gerakan molekul, suhu dalam lautan bervariasi sesuai dengan kedalaman. Massa air permukaan di wilayah tropik panas sepanjang tahun yaitu 20o-30o C sedangkan massa air permukaan pada zone beriklim sedang hangat di musim panas (Nybakken, 1992).

2. Parameter Kimia
a. Kadar Oksigen Terlarut (DO)
Kelarutan oksigen di laut sangat penting artinya dalam mempengaruhi kesetimbangan kimia di air laut. Oksigen diperlukan  untuk respirasi, sedangkan proses fotosintesis oleh tumbuhan air akan menghasilkan oksigen. Oksigen terlarut mungkin merupakan parameter pengubah kualitas air yang paling kritis pada organisme perairan. Atmosfer merupakan cadangan udara terbesar namun oksigen tersebut hanya sedikit yang larut dalam air (Cholik, 1979).
b. Karbon Dioksida (CO2)
Karbondioksida merupakan bahan dasar dalam fotosintesis, tetapi jika dalam konsentrasi yang tinggi dapat bersifat menghambat penyerapan O2 oleh darah dalam tubuh ikan. Kandungan CO2 bebas sebaiknya tidak melampaui 25 ppm dan kandungan O2 selalu tersedia dalam jumlah cukup. Perairan dengan kandungan O2 terlarut 2 ppm. Konsentrasi CO2 sebesar 12 ppm masih cukup aman bagi kehidupan ikan (Triyatmo, 2001).
c. Alkalinitas
Alkalinitas adalah kapasitas air untuk menetralkan tambahan asam tanpa penurunan nilai pH larutan. Alkalinitas merupakan pertahanan air terhadap pengasaman oleh adanya ion-ion Ca2+ dan HCO3- dalam air (Odum, 1993).
d. Derajat Keasaman(PH)
Air murni memiliki pH netral karena disosiasi molekul air menghasilkan jumlah ion-ion H+ dan OH- yang sama, namu kehadiran CO2, dan ion-ion Na, Ca, K yang bersifat basa kuat mengubah keadaan ini sehingga air laut bersifat sedikit basa, pH berkisar 7,5-8,5. Aspek kimiawi berupa asam-basa suatu perairan akan mempengaruhi beberapa kondisi perairan yang lainnya misalnya kehidupan biologis dan mikrobiologis (Welch 1952).
e. Salinitas
Parameter yang penting dalam sirkulasi untuk mempelajari asal usul massa air adalah salinitas. Salinitas adalah jumlah kandungan garam dari suatu perairan, yang dinyatakan dalam permil. Kisaran salinitas air laurt berada antara 0 – 40 o/oo, yang berarti kandungan garam berkisar antara 0 – 40 g/kg air laut. Secara umum, salinitas permukaan perairan Indonesia rata-rata berkisar antara 32 – 340/00 (Dahuri dkk, 1996).
f. Total Suspended Solid (TSS)
Total Suspended Solid merupakan padatan tersuspensi total yang tertahan pada kertas saringan dan terdiri dari lumpur maupun pasir halus yang berasal dari erosi atau kikisan tanah yang masuk ke badan air. TSS menunjukan nilai banyaknya zat-zat yang terlarut dalam suatu perairan. Besar kecilnya nilai TSS (Total Solid Suspension) dipengaruhi oleh kandungan bahan organik dalam perairan. Semakin sedikit bahan organik maka semakin kecil nilai TSS.Namun sebaliknya, semakin banyak bahan organiknya maka TSS semakin besar (Nybakken, 1992).

3. Parameter Biologi
Aspek biologi suatu perairan dapat dipengaruhi oleh parameter plankton dan bentos yang ada di dalamnya. Plankton terdiri dari fitoplankton, yaitu tumbuhan-tumbuhan air yang sangat kecil yang terdiri dari sejumlah kelas yang berbeda dan zooplankton adalah suatu grup yang terdiri hewan-hewan yang sangat banyak ragamnya termasuk Protozoa, Coelenterata, Mollusca, Anellida, Crustacea (Hutabarat dan Evans, 1985).

Read more

LAJU KONSUMSI OKSIGEN LELE


Laju konsumsi oksigen adalah jumlah oksigen yang dipeeerlukan untuk respirasi selama waktu tertentu. Pengukuran laju konsumsi oksigen pada ikan dapat menggunakan respirometer. Pada dasarnya pengukuran LKO2 dengan menggunakan respirometer ada dua jenis, yaitu untuk mengukur konsumsi oksigen pada kondisi air mengalir (sistem dinamis) dan kondisi air tenang (statis). Konsumsi oksigen adalah banyaknya oksigen yang dikonsumsi (mg, ml) persatuan berat ikan (g, kg) persatuan waktu (detik, jam) (Moyle dan Cech 1990).
Kebutuhan oksigen antara satu spesies dengan spesies yang lain dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti ukuran tubuh, aktivitas, musim, serta suhu perairan. Ikan yang mempunyai aktivitas tinggi (metabolisme tinggi) memerlukan oksigen lebih banyak. Oksigen yang tersedia di dalam air haruslah mencukupi kebutuhan oksigen pada ikan tanpa kekurangan (Cholik, dkk 1991).
Oksigen sangat mutlak diperlukan bagi pernafasan ikan dan merupakan salah satu unsur utama metabolisme hewan air. Oksigen bebas yang ada di perairan atau di udara harus bisa diambil ikan untuk metabolismenya. Pengambilan oksigen di perairan biasanya dilakukan ikan dengan menggunakan insang, tetapi ada sebagian ikan yang mengambil oksigen langsung dari udara yang disebut “Air Breather Fishes” dan ternyata ikan yang demikian jauh lebih tahan hidup di lingkungan perairan dengan kadar oksigen rendah (Lagler, et.al 1997).
Ikan lele (Clarias sp.) adalah ikan yang hidup di air tawar dan termasuk pemakan segala. Ikan ini bersifat nokturnal artinya aktif pada malam hari atau menyukai tempat gelap. Pada siang hari yang cerah, ikan lele lebih suka berdiam pada lubang-lubang yang tenang dan aliran air tidak terlalu deras. Ikan lele mempunyai organ insang tambahan (arborescent) yang memungkinkan ikan ini dapat mengambil oksigen langsung dari udara, sehingga ikan lele dapat hidup dalam air yang kandungan oksigennya sedikit (Suyanto 1999). Dan juga mempunyai karakter khusus, yaitu mempunyai air breathing organs sehingga tidak hanya dapat hidup di daerah yang kadar oksigennya rendah namun juga dapat hidup beberapa jam setelah tidak ada air (Sterba 1989).
Ikan familia Cyprinidae  termasuk Ctenopharyngodon idellus dan Cyprinus carpio dan ikan koki (Carassius auratus) dan ikan familia Clariidae (Clarias sp.) diketahui bahwa konsumsi oksigen menurun seiring dengan meningkatnya CO2 dalam perairan (Spotte 1970).
Umur ikan, aktivitas ikan serta kondisi perairan sangat mempengaruhi kebutuhan akan oksigen ikan. Semakin tua umur ikan, laju metabolismenya semakin menurun, sehingga kebutuhan oksigen juga menurun. Ukuran ikan juga mempengaruhi, semakin besar ukuran ikan jumlah konsumsi oksigen per mg berat badan semakin rendah. Aktivitas ikan yang berbeda-beda juga mempengaruhi konsumsi oksigen. Jenis ikan yang melakukan perburuan membutuhkan oksigen lebih banyak dibanding ikan yang menunggu mangsanya. Pemenuhan kebutuhan oksigen tersebut sangat ditentukan oleh lingkungan perairan (Fujaya 2004).
Kelarutan oksigen dipengaruhi oleh faktor suhu, pada suhu tinggi kelarutan oksigen rendah dan pada suhu rendah kelarutan oksigen tinggi. Tiap-tiap spesies biota akuatik mempunyai kisaran toleransi yang berbeda-beda terhadap konsentrasi oksigen terlarut di suatu perairan. Spesies yang mempunyai kisaran toleransi lebar terhadap oksigen penyebarannya luas dan spesies yang mempunyai kisaran toleransi sempit hanya terdapat di tempat-tempat tertentu saja (Levington 1982).


Read more

KROMOSOM DAN KARYOTIPE PART 1


KARYOTIPE

Karyotipe yaitu suatu pengelompokkan kromosom-kromosom suatu individu berdasarkan atas jumlah dan morfologi serta ukurannya (Yatim, 1999).
Kromosom dapat dibedakan menjadi 4 berdasarkan bentuknya dalam hubungannya dengan letak sentromernya, yaitu :
a.    Telosentrik, mempunyai sentromer yang terletak di ujung.
b.    Akrosentrik, mempunyai sentromer yang terletak dekat ujung.
c.    Submetasentrik, mempunyai sentromer dekat pertengahan.
d.   Metasentrik, mempunyai sentromer yang terletak di tengah-tengah sehingga 
     kedua lengannya sama panjang (Subowo, 1979).
Pada ikan, lebih dari setengah jumlah dari seluruh ikan yang telah dipelajari, karyotipenya terdiri dari 48 atau 50 kromosom. Pada beberapa jenis ikan terjadi evolusi karyotipe seperti pada jenis-jenis ikan chimaera tertentu kariotipe hampir terdiri dari 100 kromosom, jenis ikan hering mencapai 52 kromosom dan pada species Sardina pilohardis mencapai 80 kromosom (Kirpichnikov, 1981).
Kromosom pada makhluk hidup tingkat tinggi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
a.    Autosom adalah kromosom yang tidak ada hubungannya dengan penentuan jenis kelamin.
b.    Kromosom kelamin (seks kromosom) yaitu dua kromosom yang menentukan jenis kelamin (Suryo, 1980).
Kromosom berdasarkan jumlah sentromernya dapat dibedakan menjadi :
a.    Kromosom monosentrik, mempunyai satu sentromer.
b.    Kromosom disentrik, mempunyai dua sentromer.
c.    Kromosom polisentrik, mempunyai lebih dari dua sentromer.
Karyotipe dibuat berdasarkan penyusunan kromosom pada tempat tertentu dalam deretan berdasarkan atas bentuknya (letak sentromer, panjang kromosom dan sebagainya). Pembuatan kariotipe diambil dari sel dalam tahap metafase dengan pemberian colchihin (Subowo, 1979).
Menganalisa karyotipe dari suatu individu akan dapat diketahui apakah terdapat kelainan (abrasi) dari kromosom individu tersebut. Misalnya seorang yang berkariotipe 47, XY.21 artinya jumlah kromosom individu 47, berjenis kelamin laki-laki dan kromosom nomer 21, lebih satu sehingga dapat diketahui bahwa seseorang ini mempunyai kelainan sindrom down (Suryo, 1995).

Read more

Friday, June 24, 2011

TINJAUAN PUSTAKA TAUTAN SEXS


Sex linkage atau rangkai kelamin adalah gen yang terletak pada kromosom kelamin. Karakter yang ditimbulkan oleh gen ini diturunkan bersama karakter kelamin (Yatim, 1983).
Suatu gen disebut terpaut seks bila terletak pada kromosom seks atau lebih terpautnya ditemukan pada kromosom X dan Z. Berbeda dengan kromosom homolog pada autosom, yamg mempunyai tata letak gen yang sama, kromosom X dan Y atau kromosom Z dan W mempunyai struktur yang berbeda. Sebagian besar alel yang terletak pada kromosom X tidak mempunyai pasangan gen alel pada kromosom Y (Jusuf, 1988). Sifat sex linkage dalam penampilan yang tampak secara khas yang bergabung dengan seks dari pemiliknya (Ritchi and Carola, 1983).
Apabila kedua kromosom kelamin, yaitu kromosom X dan Y disejajarkan maka dapat dilihat bahwa ada bagian yang homolog (sama bentuk dan panjangnya). Kromosom kelamin pada manusia dibedakan atas 3 bagian :
1.    Bagian dari kromosom X yang homolog dengan bagian dari kromosom Y. Bagian ini tidak panjang dan disini terletak gen-gen yang merupakan rangkai kelamin tak sempurna.
2.    Bagian dari kromosom X yang tidak homolog dengan salah satu bagian dari kromosom Y. Bagian ini panjang sekali dan disini terletak gen yang memperlihatkan rangkai kelamin sempurna, yaitu gen-gen yang lazim menunjukkan sifat rangkai kelamin seperti buta warna dan hemofilia. Gen-gen ini disebut juga gen terangkai X.
3.    Bagian dari kromosom Y yang tidak homolog dengan salah satu bagian dari kromosom X. Bagian ini pendek sekali dan disini terletak gen yang biasa dinamakan gen-gen rangkai Y (Suryo 1980).
Kalrenter, seorang perintis eksperimen mengenai hibridisasi tanaman pada abad ke-17, mengungkapkan bahwa sex linkage meyebabkan terjadinya perbedaan pada kenampakan dari hasil persilangan F1 apakah jantan atau betina dari parental satu varietas atau berlainan. Penemuan ini dapat diartikan bahwa meskipun varietas mungkin berbeda pada banyak sifat, sifat-sifat ini terdapat pada F1 sama persis dari kedua sisi tanpa memperhatikan kelamin parentalnya (Strickberger 1985).
Gen-gen yang terangkai dapat dibedakan menjadi 2, yaitu :
a.    Rangkai sempurna yaitu apabila gen-gen yang terangkai letaknya sangat berdekatan satu sama lain, maka selama meiosis gen-gen itu tidak mengalami perubahan letak sehingga gen-gen itu bersama-sama menuju ke gamet.
b.    Rangkai tidak sempurna yaitu gen-gen yang terangkai pada satu kromosom biasanya letaknya tidak berdekatan satu sama lain, sehingga gen-gen itu dapat mengalami perubahan letak yang disebabkan karena adanya penukaran segmen dari kromatid-kromatid pada sepasang kromosom homolog, peristiwa ini disebut pindah silang (crossing over ) (Suryo 1980).
Menurut Susanto (1995), klasifikasi dari ikan guppy  adalah :
ü  Phylum                  : Chordata
ü  Subphylum            : Craniata
ü  Kelas                     : Osteichthyes
ü  Ordo                      : Cyprinodonoidei
ü  Sub ordo               : Poecilioidei
ü  Familia                  : Poecilidae
ü  Genus                    : Poecilia
ü  Spesies                  : Poecilia reticulata Peters

Sedangkan klasifikasi dari ikan betta (Betta splendens) adalah :
ü  Phylum                  : Chordata
ü  Subphylum            : Craniata
ü  Kelas                     : Osteichthyes
ü  Sub kelas               : Actinopterygii
ü  Super ordo            : Teleostei
ü  Ordo                      : Percomorphoidei
ü  Sub ordo               : Anabantoidei
ü  Familia                  : Anabantidei
ü  Genus                    : Betta
ü  Spesies                  : Betta splendens
Read more

TINJAUAN PUSTAKA TEKNIK PENANGKAPAN IKAN

SEBELUM COPY PASTE ATAU DIGUNAKAN, MOHON DIKOMENTARI DULU YA :)
FOLLOW ME WWW.TWITTER.COM/BRQDIASBAHARY
ADD FRIENDS KASKUS : brqdiasbahary


Usaha Perikanan adalah semua usaha perorangan atau badan hukum untuk menangkap atau membudidayakan ikan, termasuk kegiatan menyimpan, mendinginkan atau mengawetkan ikan untuk tujuan komersial; sedangkan  Penangkapan Ikan adalah kegiatan yang bertujuan untuk memperoleh ikan diperairan yang tidak dalam keadaan dibudidayakan dengan alat atau cara apapun, termasuk kegiatan yang menggunakan kapal untuk memuat, mengangkut, menyimpan, mendinginkan, mengolah atau mengawetkan ikan (UU RI no 9 Th 1985).
Purse seine merupakan alat tangkap ikan yang digolongkan dalam kelompok jarring lingkar (surrounding net) (Partosuwiryo, 2008). Purse seine dikenal juga dengan nama pukat cincin karena dilengkapi dengan cincin yang digunakan sebagai tempat untuk  memasang tali kolor yang sangat penting pada saat pengoperasian jarring. Sebab jarring yang semula tidak berkantong akan membentuk kantong pada akhir operasi penangkapan. Pukat cincin sendiri memiliki nama yang berbeda-beda di setiap daerah di Indonesia. Di daerah Sumatera dikenal sebagai Pukat Langgar, di daerah Sulawesi dikenal dengan sebutan Gae, dan di daerah Ambon dikenal dengan nama Soma Giob (Partosuwiryo, 2002).
Purse dibuat sesuai dengan keperluan dan penggunaannya. Menurut Partosuwiryo (2008), purse seine dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a.    Bentuk dasar jarring utama
-    bentuk segi empat
-    bentuk trapezium
-    bentuk lekuk

b.    Spesies ikan yang akan ditangkap
-    Pukat cincin sardine
-    Pukat cincin tuna
-    Pukat cincin laying
-    Pukat cincin kembung
-    Pukat cincin cakalang
-    Pukat cincin tongkol
c.    Jumlah kapal yang digunakan saat operasi
-    Pukat cincin sistem 1 kapal
-    Pukat cincin sistem 2 kapal
d.    Waktu operasi
-    Pukat cincin siang
-    Pukat cincin malam
e.    Ukuran
-    Pukat cincin mini
-    Pukat cincin besar
Pukat cincin digunakan menangkap ikan yang bergerombol di permukaan laut (pelagis) seperti laying, lemuru, kembung, sardinella, tuna, selar, tongkol, cakalang, dan tengiri. Menurut Peureulak (2009) jenis ikan yang ditangkap dengan purse seine terutama di daerah Jawa dan sekitarnya adalah Layang (Decapterus spp), bentang, kembung (Rastrehinger spp) lemuru (Sardinella spp), slengseng, cumi-cumi dll.
Prinsip utama penangkapan dengan purse seine yaitu dengan melingkari gerombolan ikan dengan menggunakan jarring dan kemudian mengkerutkan bagian bawah jarring dengan menarik tali yang disebut tali kolor. Penarikan tali kolor ini agar ikan terkumpul dan terjebak dalam jaring yang berbentuk mangkok. Sehingga ikan akan terkumpul di bagian kantong dan tidak memiliki jalan keluar. Dalam hal ini jarring berfungsi sebagai dinding penghalang dan bukan sebagai penjerat ikan.
    Fishing ground yang dianggap baik menuntut persyaratan tertentu, terutama dapat memberikan kemudahan dalam menangani alat tangkapnya pada waktu melakukan operasi penangkapan. Kemudahan disini dengan pengertian, bahwa ombak dan arus laut tidak terlalu kuat, dasar perairannnya tidak berbatu/banyak karangnya, tidak jauh dari pangkalan, sehingga fishing ground tersebut betul-betul dapat memberikan kenyamanan dan keselamatan kerja. Dan terakhir secara ekonomi dapat dipertanggungjawabkan (Moelyono 1986).

Read more

Saturday, January 22, 2011

Disisi lain di dunia ini,,,anggap saja dia teman,,,

apa yang didapat dari seorang teman??

yang didapatkan adalah rasa kebersamaan,,saling berbagi,,dan saling membantu dalam suka atau duka,,,

teman itu tidak selalu sempurna,,

suatu saat teman itu dapat menjadi seorang monster rubah atau segalanya,,

monster sudah pasti menjadikan diri ini tidak terkendali,,,

menghancurkan orang lain atau di hancurkan,,

memburu atau diburu,,,

tidak semudah orang percaya dengan teman,,,

dia ada saat kita butuh dan kita percaya bahwa omongan kita direkam lalu disimpan baik-baik,,

di saat mengenal sosok teman yang lebih enak untuk diajak bicara, basa basi, ngobrol ga jelas, berubahlah dia,,

seakan omongan kita tidak ada guna,,dia sebar keburukan kita sebagai temannya tadi kepada teman barunya,,

yaaaa...itu memang kesadaran diri sendiri,,,tapi sebaiknya pertimbangkan apa perkataan itu,,

perkataan dimana itu sebuah rahasia atau dapat disebarluaskan kepada orang lain,,

Memang manusia itu tidak ada yang sempurna,,,

oleh karenanya,,kita harus selalu menghargai apa yang ada di dalam tubuh dan raga orang lain,,hargai sebagaimana kita dilahirkan oleh seorang ibu,,,,,

makasih,,,semoga kalian pandai berteman,jangan pernah mencari lawan bila kalian masih merasa belum sempurna..
Read more

Thursday, January 20, 2011

KRENDET


ALAT TANGKAP KRENDET

Usaha perikanan di Indonesia telah memberikan pemasukan devisa negara yang besar. Salah satu komoditi yang menjadi unggulan Indonesia adalah udang, dimana udang telah diekspor ke negara-negara lain. Dalam rangka meningkatkan peningkatan ekonomi nelayan serta peningkatan sumbangan devisa negara maka pemanfaatan hasil perikanan yang memiliki nilai jual tinggi tersebut secara bertahap telah dikembangkan pemerintah. Hal ini dapat dilihat dengan peningkatan ekspor berupa udang segar maupun udang beku. Udang hasil tangkapan tidak hanya diperoleh dari perairan terbuka namun juga dapat diperoleh di perairan karang. Lobster merupakan salah satu komoditi yang memiliki nilai jual tinggi namun dalam mendapatkan hasilnya hanya melalui usaha penangkapan. Sampai saat ini para nelayan yang melakukan usaha penangkapan lobster masih bersifat perorangan dan hanya menggunakan alat tangkap sederhana, seperti tombak, pancing, bubu, dan krendet. Penangkapan lobster yang masih sederhana dan hanya merupakan pekerjaan sampingan menyebabkan pemanfaatan lobster kurang maksimal. Selain itu ada beberapa factor yang menyebabkan lobster belum terlalu diminati dalam usaha penangkapan udang karang, diantaranya adalah hamper tidak ada informasi tetang potensi udang karang di suatu perairan, tidak teratur, perkiraan beberapa perairan karang mengalami perusakan, serta masalah yang menyangkut informasi pemasaran.
Krendet adalah sebutan untuk alat tangkap pasif yang termasuk dalam alat perangkap (trap). Krendet memiliki bentuk yang bervariasi, diantaranya adalah bulat, empat persegi panjang, dan lain-lain. Krendet terdiri dari dua bagian yaitu bingkai dan jaring. Bingkai terbentuk lingkaran dari besi cor/bambu/kayu atau rotan, garis tengah bingkai 0,5 - 0,75 m dan jaring diikatkan di dalamnya yang memiliki ukuran mata jaring antara 4”-5,5” atau menggunakan ukuran yang lainnya karena pada prinsipnya dapat menjerat lobster, pada tengah-tengah kerangka diberi tali ployethelene (PE) berdiameter 1-2 mm atau jenis tali yang lain yang tahan lama. Didalam krendet diikatkan umpan berupa daging ayam ,daging hewan lain, ataupun umpan yang dapat menarik lobster agar dapat terperangkap dalam krendet tersebut. Daerah penangkapan jaring krendet adalah pada cekungan batu karang yang terkena pasang surut laut. Krendet dioperasikan dengan cara meletakkannya di dasar perairan dangkal ke dalamanan kurang lebih 1 m dan diletakkan di sela-sela terumbu karang pada saat air laut pasang dan diambil pada saat laut surut. Target penangkapan krendet yaitu udang karang, udang barong dan lobster.
Udang karang yang terperangkap biasanya dengan cara terpuntal, hal demikianlah yang menggolongkan krendet sebagai entangling net. Entangling net adalah alat tangkap berupa jaring yang berfungsi menahan ikan/udang yang melewatinya sehingga ikan tersangkut dan tidak dapat terlepas lagi, seperti halnya jaring insang (gill net) yang berjaring tunggal, trammel net yang berjaring ganda, atau jaring hanyut (drift net). Selain bentuknya yang sederhana dan mudah pembuatannya, krendet juga murah dalam hal biaya pembuatannya, karena hanya memanfaatkan jaring-jaring bekas. Hal tersebut tidak berbeda dengan penangkapan udang barong yang juga dilakukan dengan menggunakan krendet. Udang barong, lobster, maupun udang karang akan mendekati krendet dan kemudian terpuntal didalamnya. Ada pula desain krendet yang lain apabila berada di lautan yang tenang air pasang maupun surutnya yaitu menambahkan tali agak pajang agar sampai dasar dan sebuah pelampung untuk menandai terdapat krendet di daerah tersebut, selanjutnya meletakkan krendet di perairan yang dangkal (tidak ada terumbu karang).
1.1 Gambar konstruksi krendet secara satu per satu (tunggal)

Desain Alat Tangkap Krendet



1.2 Gambar konstruksi krendet secara berderet atau bersambung (model rawai)

Konstruksi Krendet
a. Jaring (webbing)
Pemotongan jaring disesuaikan dengan bentuk rangka yang dibuat, rangka dapat berbentuk lingkaran atau empat persegi panjang. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan jaring adalah jaring tidak mudah rusak/masih dalam kondisi yang baik sehingga apabila lobster tertangkap tidak mudah terlepas, menambah  1,5 – 2,5 mata jaring sebelum memasangkan pada rangka agar pada saat terpasang pada rangka posisi jaring tidak terlalu tegang/kencang sehingga daya jerat lebih baik. Dalam pemasangan webbing pada rangka disesuaikan kebutuhan pemasangan, bila satu lapis maka cukup memotong webbing lingkaran/bulat, namun apabila 2 lapis maka perlu disediakan 2 webbing lingkaran dan seterusnya.

b. Kerangka
            Hal-hal yang diperhatikan dalam pembuatan kerangka antara lain adalah bahan rangka mudah didapat, murah harganya, dapat dibentuk sesuai keinginan bentuk rangka, sebaiknya memiliki kualitas yang bagus agar awet untuk digunakan bertahun-tahun. Bahan yang digunakan antara lain besi cor, besi ezer, bambu, kayu, rotan, dan lain-lain. Bentuk kerangka dapat berupa lingkaran, empat persegi panjang, dan lain-lain. Di pantai selatan DIY bahan terbuat dari besi ezer dengan diameter besi 4 8mm, diameter rangka antara 80 100 cm, dalam membuat satu rangka krendet membutuhkan besi ezer sepanjang  2,6 – 3,3 m.

c. Tali
            Untuk membuat satu unit krendet hanya membutuhkan tali sebagai penghubung/penyambung/pengangkat sekitar 2 meter tali PE  4 –  6 mm, selain itu juga membutuhkan tali PE  1 – 2 mm atau jenis tali yang lain sepanjang diameter rangka untuk direntangkan di tengah rangka untuk memasang upan. Umpan yang digunakan antara lain berupa daging ayam ,daging hewan lain, ataupun umpan yang dapat menarik lobster agar dapat terperangkap dalam krendet tersebut.

d. Pemberat
            Pemberat dipasang cukup 1 buah seberat  0,5 kg, pemberian pemberat ditujukan agar tidak terbawa arus. Bahan pemberat dapat dari batu, koral, timah, dan lain-lain.

Pengoperasian Krendet
            Pengoperasian krendet pada dasarnya juga sederhana, namun perlu diketahui secara tepat daerah penangkapannya, waktu operasinya, jenis uman dan cara pemasangannya, cara pengoperasian alatnya, hauling (pengambilan/pengangkatan), masalah dan usaha mengatasinya, serta perawatan alat. Berdasarkan daerah penangkapannya, pengoperasian krendet di perairan berkarang yang banyak terdapat terumbu karang dan batu-batu karang ataupun pada daerah sekitar/di dekat perairan berkarang. Untuk mengetahui daerah penangkapan biasanya dapat dilihat dari peta laut atau dari nelayan yang berpengalaman. Berdasarkan waktu operasinya, krendet akan lebih berhasil bila dilaksanakan pada malam hari terutama pada saat bulan gelap karena pada siang hari lobster akan berlindung di lubang-lubang atau gua-gua karang, hal ini disebabkan karena lobster menyukai tempat-tempat terbuka ataupun perairan yang berarus kuat. Berdasarkan jenis umpan dan cara pemasangannya, krendet dipasang umpan berupa ikan-ikan rucah ( ikan cucut, ikan lidah, ikan sebelah, dan lain-lain), selain itu dapat pula menggunakan daging ayam atau daging hewan lain. Umpan dipotong-potong dan bias pula ditambah dengan kelapa dibakar sehingga menibulkan aroma yang akan menarik lobster agar dapat terperangkap dalam krendet tersebut.
            Berdasarkan cara pengoperasian alat, krendet dapat dioperasikan dengan dua cara, yaitu :
1. Pengoperasian secara satu per satu (tunggal)
            Pengoperasian secara satu per satu (tunggal) dilakukan oleh satu orang dan tidak menggunakan perahu karena dilakukan pada perairan yang dangkal dipinggir pantai, dan dasarnya berkarang. Urutan pengoperasiannya adalah sebagai berikut :
1.      Memasang pemberat setiap alat
2.      Memasang umpan secukupnya pada tali yang telah disiapkan
3.      Meletakkan alat pada fishing ground yang akan telah direncanakan
4.      Tali disangkutkan atau diikatkan pada batu karang agar tidak terbawa pasang surut air. Pemasangan (setting) sebaikknya dilakukan pada sore hari menjelang terbenamnya matahari untuk menjerat udang yang aktif pada malam hari.
2. Pengoperasian secara berderet atau bersambung (model rawai)
            Pengoperasian secara berderet dilakukan oleh 2-3 orang karena menggunakan perahu motor temple atau perahu jukung. Pengoperasian dilakukan pada perairan antara 6-50 meter karena pada perairan tersebut dasar perairannya berkarang sehingga bahitatnya disukai banyak jenis lobster. Perahu yang digunakan tidak perlu memakai kapal yang besar karena biaya yang mahal, selain itu perairan berkarang akan berbahaya dan sukar mendekati pantai. Untuk mempermudah dan mempercepat pemasangan (setting) setelah sampai daerah penangkapan maka sebelum ke laut umpan dipasang terlebih dahulu dan alat disusun serta diambung satu persatu dengan jumlah yang diinginkan. Setelah arus diketahui maka krendet dapat diturunkan yang didahului dengan menurunkan pemberat lalu melakukan pembuangan tali selambar/tali bendera atau umbul. Dalam memulai operasi penangkapan terlebih dahulu semua peralatan disusun rapi di bagian tengah perahu sebagai berikut :
1.      Memasang pelampung pada tali pelampung yang dihubungkan dengan tali pemberat dan yang telah disambung ada alat.
2.      Memasang umpan pada masing-masing alat.
3.      Menyusun alat yang telah disambung dan dipasang umpan di perahu dengan teratur dan berurutan.
4.      Menurunkan perangkat pelampung (pelampung dan tali pelampung yang sudah disambung dengan tali pemberat).
5.      Menurunkan pemberat atau jangkar yang selanjutnya disusul penurunan alat. Pada saat penurunan alat ini perahu bergerak/berjalan nundur dengan kecepatan secukupnya, lalu setelah kesemua alat diturunkan kemudian perahu berhenti dan jangkar maupun pelampung diturunkan. Kemudian alat ditinggalkan selama 1 atau 2 malam kemudian diangkat keesokan harinya.
Berdasarkan hauling (pengabilan/pengangkatan), krendet dengan pengoperasian secara satu per satu maupun bersambung pengangkatan minimal dilakukan keesokan hari setelah pemasangan alat (setelah minimal 1 malam di air). Semakin lama di dalam air (2-3 hari) hasilnya akan lebih baik namun kemungkinan besar lobster yang tertangkap sudah rusak. Agar hasil yang didapatkan tidak rusak maka sebaiknya pengangkatan dilakukan setiap satu malam dan dilakukan pengecekan, apabila hasilnya telah didapat maka segera diangkat namun apabila belum mendapatkan hasil maka alat dipasang/diturunkan kembali, demikian pula apabila terjadi kerusakan alat pada saat pengangkatan maka sebaiknya diperbaiki dahulu kerusakannya selanjutnya alat dipasang/diturunkan kembali.
Apabila dilihat berdasarkan masalah dan usaha mengatasinya maka alat tangkap krendet memiliki masalah pada kekuatan arus pada saat penangkapan lobster menggunakan krendet. Hal tersebut dikarenakan pada saat krendet terkena arus yang kuat maka kedudukan krendet tidak tepat berada di atas atau di sekitar batu karang terutama bila dioperasikan pada perairan karang atau sekitarnya yang cukup dalam sehingga fishing ground yang dikehendari menjadi berubah. Usaha yang dilakukan untuk mengatasinya yaitu menambahkan jumlah pemberat yang dipasang pada krendet atau memperbesar pemberat agar apabila krendet terkena arus yang cukup kuat, kedudukan krendet tidak berubah. Berdasarkan perawatan krendet, agar alat lebih awet atau tahan lama maka hendaknya perlu perawatan yaitu setelah operasi penangkapan selesai selanjutnya segera dibersihkan atau dicuci dengan disiram air tawar, kemudian diangin-anginkan (tanpa terkena sinar matahari langsung/terlindung). Perawatan krendet berderet atau bersambung dengan cara melepas alat satu dengan lainnya dan juga pemberat krendet, bila terdapat jarring yang rusak segera diperbaiki agar siap untuk dipakai kembali.
Hasil tangkapan dengan alat krendet yang dioprasikan dengan cara tunggal (satu persatu) maupun cara berderet atau bersambung (model rawai) antara lain :
-          Jenis batu (Panulirus penicillatus)
-          Jenis bambu pakistan/bambu coklat (Panulirus polyphagus)
-          Jenis bambu hijau/kumis putih (Panulirus versicolor)
-          Jenis mutiara (Panulirus omatus)
-          Jenis hijau pasir (Panulirus homarus)
-          Kepiting

 Perkembangan Krendet di Yogyakarta
Pada awalnya cara penangkapan udang barong yang dilakukan oleh nelayan di kawasan pantai  Gunung Kidul bersifat pasif, yaitu alat tangkap yang hanya dipasang secara diam atau menetap untuk menunggu datangnya udang barong. Hal ini disebabkan karena keadaan dasar perairan sebagai tempat hidup udang barong berbatu-batu karang, perairan tidak merata, tepi pantai sangat terjal, dan gelombang cukup besar sehingga menyebabkan alat tangkap aktif tidak dioperasikan di sepanjang pantai Gunung Kidul. Nelayan di sepanjang Gunung Kidul pada saat musim ikan biasanya mencari pendapatan melalui penangkapan ikan namun pada saat datangnya puncak musim panen lobster, mereka beralih menjadi penangkap lobster. Banyak nelayan disana memasang krendet dari lingkaran besi yang diletakkan semalaman di tepi tebing dan pada pagi atau siang hari mereka mengangkat hasil yang didapatkan, selain itu juga banyak nelayan yang menebar jarring di perairan didekat tebing.
Panen lobter pada tahun 2008 cukup melimpah dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Nelayan yang mencari lobster semakin banyak karena harga lobster yang cukup tinggi. Banyak nelayan dengan berkekuatan 15 PK dan 20 PK di Pelabuhan Sadeng, Pantai Baron, dan Pantai Drini telah beralih mencari lobster. Akibat yang ditimbulkan dari penangkapan secara berlebihan yang ditandai dengan sedikitnya hasil tangakapan dari tahun ke tahun yang mulai menurun karena semakin banyaknya pencari lobter di daerah-daerah tersebut. Jenis lobster yang diperoleh cukup beragam mulai dari lobster mutiara, hijau, kipas, dan batu. Panenan lobster tersebut telah berlangsung sejak satu bulan terakhir. Limpahan panenan lobster menyebabkan pedagang bisa memasok lobster setiap dua hari sekali dibandingkan tahun-tahun sebelum 2008 yang maksimal tiga hari sekali.
            Menurut salah satu nelayan di daerah Gunung Kidul menyatakan bahwa pencari lobster mengeluh rendahnya pemanenan lobster pada tahun 2008 akibat banyaknya pencari lobster di daerahnya, meskipun telah memasang 10 krendet di tebing-tebing pantai namun hasil tangakapn kurang maksimal sehingga dapat dilihat apabila sebelum tahun 2008 mendapatkan 5 ons lobster per hari maka pada saat dan setelah tahun 2008 hanya mendapatkan 2 ons per hari. Lobster biasanya dipasok ke Jakarta dalam keadaan hidup. Lobster yang telah mati tetap laku, tetapi dijual setengah harga dari lobster hidup. Lobster berukuran 3-6 ons untuk jenis mutiara dapat dijual seharga Rp 435.000, lobster batu seharga Rp 130.000, dan lobster pasir Rp 240.000 per kilogram.
            Upaya penangkapan udang karang yang tidak terkontrol dapat mengancam kelestarian dan menghancurkan potensi ekonomis yang terkandung di dalamnya. Masalah pengurasan (depletion) sumber daya perikanan denimikanoleh A.G Huntsman (1994) dalam Marahuddin dan Smith (ed) (1968). dirumuskan dalam bahasa ekonomi sebagai "keadan dimana tangkapan dibandingkan dengan upaya tidak mampu menghasilkan suatu kehidupan yang layak bagi nelayan'.Untuk menghindari kondisi demikian, perlu adanya suatu manajemen stok dan tersedianya data biologi dan ekonomi perikanan udang karang yang baik.

Penelitian tentang penggunaan dua konstruksi krendet di Perairan Wonogiri
Spiny lobster merupakan komoditi perikanan yang bernilai ekonomi tinggi. Di Perairan Nambu biota ini ditangkap menggunakan krendet dengan konstruksi berbentuk lingkaran. Berdasarkan tekstur perairan Nampu yang relatif banyak kedung memanjang, maka diujicobakanlah krendet dengan konstruksi empat persegi panjang. Ujicoba pengoperasian dua bentuk konstruksi krendet telah dilakukan di Perairan Nampu pada Bulan Juli - Agustus 2004 sebanyak 12 kali uiangan. Ujicoba ini dimaksudkan untuk mendapatkan bentuk konstruksi yang lebih banyak menghasilkan spiny lobster.
Krendet merupakan satu jenis alat penangkap spiny lobster yang banyak digunakan di wilayah selatan Pulau Jawa. Umumnya krendet berbentuk lingkaran dan cukup efektif dioperasikan di perairan yang memiliki topografi dasar tidak rata, paparan karang dan batu karang. Menurut Fridman (1988), strategi yang diperlukan untuk menangani masalah teknis yang muncul dalam aktivitas penangkapan biota laut diantaranya menentukan parameter suatu alat tangkap dengan memperhitungkan kondisi lokasi penangkapm untuk menyempurnakan konstruksi alat tangkap yang ada sesuai dengan kondisi perairan tersebut.
Nelayan di Kecarnatan Paranggupito banyak mengoperasikan krendet lingkaran di Perairan Wonogiri dengan sasaran tangkap spiny lobster. Perairan Wonogiri umumnya memiiiki kontur dasar karang dengan cekungan (kedung) sempit yang rnemanjang. Hasil pengamatan pendahuluan menunjukkan bahwa krendet lingkaran tidak dapat menutupi area kedung dengan sempurna. Oleh karena itu bentuk krendet ernpat persegi panjang patut diujicobakan dengan harapan area kedung akan tertutup lebih sempurna sehingga hasil tangkapan spiny lobster lebih banyak. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi hasil tangkapan krendet uji coba dan menentukan bentuk krendet yang lebih baik dalam menmgkap spiny lobster (Panulirus spp.) di Perairan Nmpu, Wonogiri.
Penelitian ini dilaksanakan selama 20 hari, dimulai dari tanggal 27 Juli sarnpai 16 Agustus 2004 di Perairan Nmpu Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri. Uji coba kedua bentuk krendet dilakukan di lokasi penangkapan Karangbang, karena kondisi perairan mempunyai gelombang dan arus yang tidak terlalu besar serta memiliki topografi dasar berkedung sehingga kedua macam konstruksi krendet dapat dioperasikan walau pun dalam musim paceklik. Krendet uji coba masing-masing berjumlah 10 unit (Gambar 1). Umpan yang digunakan adalah krungken (chiton). Seluruh krendet dipasang di mulut kedung, dioperasikan dengan sistem tunggal dan diiakukan sebanyak 12 kali ulangan. Data utama yang diambil berupa jumlah dan bobot hasil tangkapan spiny lobster. Selanjutnya data diolah menggunakan rancangan acak lengkap.
Hasil tangkapan kedua jenis krendet berjumlah 108 ekor dengan bobot 12.610 gram, terdiri atas 32 ekor (29,63%) dari krendet lingkaran dan 76 ekor (70,37%) krendet empat persegi panjang. Hasil tangkapan didominasi oleh Panulirus penicillatus 75 ekor, terbagi atas 26 ekor (34,67%) dari krendet lingkaran dan 49 ekor (65,33%) krendet empat persegi panjang. Berdasarkan hasil uji statistik terhadap jumlah hail tangkapan spiny lobster diperoleh Fhitung yaitu sebesar 20,7969 lebih besar dari Ftabel yaitu sebesar 4,3009 maka perlakuan bentuk konstruksi krendet memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah hasil tangkapan spiny lobster. Sementara untuk bobot spiny lobster rata-rata menunjukkan hasil Fhitung13,8048 lebih besar dari Ftabel 4,3009 maka perlakuan bentuk konstruksi krendet memberikan pengaruh yang nyata terhadap bobot spiny lobster rata-rata. Dengan luasan yang sama terbukti bahwa krendet empat persegi panjang memperoleh hasil tangkapan spiny lobster yang Iebih banyak dibandingkan dengan krendet lingkaran. Hal ini disebabkan konstruksi krendet empat persegi panjang memiliki area hadang yang lebih besar dibandingkan dengan konstruksi krendet lingkaran jika dipasang memanjang sejajar dengan pantai.
Berdasarkan hasil uji statistik menunjukkan bahwa bentuk krendet memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah dan bobot hasil tangkapan spiny lobster. Berdasarkan hasil tangkapan spiny lobster yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa krendet empat persegi panjang memberikan hasil tangkapan lebih banyak sehingga konstruksi krendet empat persegi panjang dapat segera digunakan oleh nelayan di Perairan Nampu, Kabupaten Wonogiri.

Read more